Pintar dalam Surat, atau Pintar dalam Nyata?

Oleh Constantio Tanggal: February - 4 - 2011

Tolak ukur seseorang dalam perekrutan karyawan, selalu melihat tidak jauh dari surat kelengkapan yang ada, atau bisa di bilang dalam paket CV, Sertifikat, Ijazah dan lain-lain, yang tentunya bisa ditilik sampai dimana kemampuannya. Hal klasik dimana seorang pemimpin perusahaan menginginkan karyawannya berada dalam posisi yang optimal di lihat dari semua kelengkapannya, dan itu juga yang menjadi ukuran standar gaji.

  1. Lulusan S2 pasti lebih tinggi gajinya dengan orang lulusan S1, D3 (make sense).
  2. Nilai IPK tinggi dengan angka fantastik atau bisa di bilang KUMLOT.
  3. Pendidikan Luar Negeri menjanjikan angka nol dibelakang slip gaji lebih besar.
  4. Portfolio dan projek yang banyak.

Tapi menurut saya ini cuma sebagai tolak ukur yang seharusnya dijabarkan menjadi:

  1. Lulusan S2 yang tentunya murni di dapatkan secara halal, atau bahkan dengan beasiswa adalah nilai utama dalam mengantongi bahwa orang tersebut pintar.
  2. Nilai IPK tentu adalah angka valid, tetapi juga harus dilihat di Universitas / Institut mana dia lulus. Kumlot di BSI tentu tidak bisa disamakan dengan kumlot di UI
  3. Seperti yang diutarakan di posisi 1, jika pendidikan ini di dapatkan karena potensi yang benar atau penghargaan, tentu menjadi sebuah nilai plus. Tapi perlu diingat pendidikan luar negeri itu belum tentu lebih dari lulusan dalam negeri.
  4. Portfolio yang menarik dan tentunya bernilai merupakan nilai plus juga.
  5. Tentunya kemampuan, dan bagaimana solusi dalam mengatasi masalah.

Beberapa point penjabaran ini mungkin bisa dikatakan dilupakan oleh perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan baru. Mereka melihat dari paket kertas CV yang membuat terkagum-kagum, bahkan mereka nantinya akan menangis dan menyesal mengetahui point 5 mereka lupakan karena pesona CV yang sempurna. Apakah mereka tidak melihat dengan sikap yang lebih objektif dan memikirkan karyawan lain yang mungkin tidak memiliki point (1), (2), dan (3) menjadi “Karyawan Recehan”? karena pemimpin mereka begitu membanggakan orang baru yang belum tentu dapat dilihat secara optimal hasilnya?

Disini professionalisme seorang pimpinan dinilai oleh karyawannya, pantas dijadikan panutan atau pantas dijadikan sebuah tontonan yang cukup menggunakan kacamata pembajak ala “Pirates”?? Keadilan tentu harus dijunjung tinggi melihat dari porsi pekerjaan, bukan standar paket surat emas. Yang dibutuhkan adalah karyawan dengan potensi emas, bukan karyawan yang di banggakan dengan surat emasnya.

Prilaku yang seperti ini akan membuat karyawan lain akan kecewa, sedih dan merasa disisihkan, padahal mungkin porsi pekerjaan mereka sama atau bahkan lebih, tapi harus merasa tersudut karena tidak memiliki kelebihan pada point-point emas tadi. Ironis, dan inilah pola yang tak mudah di ubah, “We Believe With Gold Paper” merupakan mind set yang sudah ditanamkan hingga masuk ke akar-akar otak, yang tentunya jadi tak mudah di hapuskan.

Pemimpin yang baik, seharusnya melihat secara global, melihat porsi keadilan, menilai dengan hasil nyata, baru menyatakan “We Believe With Gold Paper”!!!

Popularity: unranked [?]

Leave a Reply