“Aduh bisa gak seh, bikin film tuh yang buagus gitu loch, kok semuanya kaya kacang goreng, bikinnya sama, plotnya sama”, demikian kiranya kutipan dari beberapa komentar yang berhasil dirangkum oleh teman-teman saya di komunitas perfilman (Komunitas Layar Film).
Menggeliat pastinya, produksi film Indonesia memang lagi marak dan tidak bisa dipungkiri membawa angin segar baru ke kalangan senias dan masyarakat kita.
Tapi warna plot yang sama membuat warna perfilman kita hilang, kalau dipikir-pikir, nuansa film komedi sekarang merajai perfilman Indonesia, ngomong-ngomong, kemana warna film perjuangan kita, ya bagaimana negara ini bisa menghargai pahlawannya, jika kita hanya disuguhkan sejarah pada saat sekolah, dan dibangunkan kembali ingatan kita setiap tanggal 10 November?. Sebuah kenyataan yang membuat saya dan beberapa orang yang konsen di dunia perfilman mencoba melirik kembali film-film perjuangan jaman jadul dari era 50an sampai 70an, seperti Anak-anak Revolusi, Mereka Kembali, Romusha dan lain-lain.
Mencoba tampil modern, boleh saja, tapi apa tampil modern bisa memikat hati penonton, belum tentu, kesan modern, tapi murahan, kampungan, menjual yang “tidak penting” juga menjadi cibiran beberapa orang penikmat film. Sungguh sayang, jika sedang menggeliat dan menjamurnya produksi film kita ternyata, dibumbuhi banyaknya orang mencari film-film luar untuk konsumsinya, dibandingkan memadati bioskop kita untuk menonton film produksi anak bangsa, karena apa ya itu tadi, filmnya tidak membuat terkesan “WAH” dan “MENARIK”, jadi sehabis lepas dari bioskop kesan itu hilang dan hanya menjadi perbincangan sesaat. Read the rest of this entry »
Popularity: 12% [?]