<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Constantio Works &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://constantio.web.id/category/film/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://constantio.web.id</link>
	<description>All Work... All Play</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Sep 2011 07:43:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Apresiasi yang Tertinggal</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 19:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Negara Indonesia memiliki banyak pemuda pemudi yang membanggakan, tapi biasanya mereka jarang terlihat, atau bahkan tidak di lirik sama sekali, apresiasi bahkan datang dari luar, sehingga banyak pemuda pemudi Indonesia berjuang di negeri orang, atau bahkan say &#8220;Goodbye&#8221; dengan menjadi warga negara asing. Hal ini juga tergambar dengan sebuah pengalaman yang saya lakukan dulu, ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Negara Indonesia memiliki banyak pemuda pemudi yang membanggakan, tapi biasanya mereka jarang terlihat, atau bahkan tidak di lirik sama sekali, apresiasi bahkan datang dari luar, sehingga banyak pemuda pemudi Indonesia berjuang di negeri orang, atau bahkan say &#8220;Goodbye&#8221; dengan menjadi warga negara asing.</p>
<p>Hal ini juga tergambar dengan sebuah pengalaman yang saya lakukan dulu, ketika saya membuat sebuah situs film, dengan sebuah keisengan untuk menyalurkan hobby, tapi kewalahan sendiri karena &#8220;Ternyata konten film itu BUANYAK ya?&#8221; hehehe, setelah mendapat pamor bagus, dan bertengger di TOP 1 Google.com dalam waktu 4 bulan, untuk kategori &#8220;Best Movie&#8221;, menyebabkan orang lebih percaya itu adalah hasil karya orang Amerika.<img title="More..." src="http://www.kompasiana.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><img title="More..." src="http://constantio.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-411"></span></p>
<p>Menyedihkan, saya membiarkan hal ini terjadi dari saat peluncurannya Juli 2007 hingga saya nyatakan website tersebut adalah hasil karya anak bangsa, dengan menyelipkan banner menyongsong ultah RI ke-63 pada tahun 2008.</p>
<div>
<dl id="attachment_233521">
<dt><a href="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/banner_tbmr_mpd.gif"><img src="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/banner_tbmr_mpd.gif" alt="Banner TBMR untuk Dirgahayu Indonesia" width="386" height="50" /></a></dt>
<dd>Banner TBMR untuk Dirgahayu Indonesia</dd>
</dl>
</div>
<p>Tapi lagi-lagi saya mendapatkan sebuah kenyataan, bahwa negeri ini banyak sekali orang yang sedikit memiliki rasa apresiasi pada hasil karya bangsanya. Ada yang bilang saya membual ketika saya mengucapkan Dirgahayu RI ketika broadcast ke YM dengan menyertakan linknya. Dan rata-rata yang memberikan apresiasi malah sahabat-sahabat perjuangan di <a title="Ilmu Komputer" href="http://www.ilmukomputer.com" target="_blank">Ilmu Komputer</a>, praktisi IT, dan teman-teman di luar negeri.</p>
<p>Ketika kesimbukan menjadikan saya tidak memberikan kontribusi banyak pada situs ini, menjadikannya hilang dan tidak dikenal lagi, tapi jangan salah, walaupun begitu, sejak september 2009 fakum, TBMR muncul dengan sebuah versi blog yang lebih familiar dan tentunya diharapkan lebih baik (walaupun saya masih menyatakan engine yang saya buat lebih simple) di <a title="The Best Movie Review's Blog" href="http://blog.thebestmoviereview.com" target="_blank">blog.thebestmoviereview.com</a>, walaupun saya harus kerja bakti kembali, memasukkan data dari ulang, karena kedua website ini dari engine yang berbeda, versi asli menggunakan framework film yang saya buat sendiri dan versi baru dengan menggunakan <a title="wordpress" href="http://www.wordpress.org" target="_blank">wordpress</a>.</p>
<p>Apakah ada apresiasi membanggakan, sudah dikatakan lumayan, walaupun ada juga yang mencibir &#8220;Yakin ini buatan lo?&#8221;, &#8220;Emang lo bisa buat kaya gini?&#8221;, &#8220;Ini buatan luar kan?&#8221;. Tapi I&#8217;m Still Proud with my work and to be Indonesian, ketika salah satu komentar seorang kolega dari India bertanya &#8220;I still love the old version, can&#8217;t wait to see it online again&#8221;. Kobaran api seakan menyala untuk kembali menatanya, dan juga membuatnya online lagi dengan bangga di dunia maya. Mungkin karya saya cuma secuil atau tak berguna di mata Anda bahkan Indonesia, tapi saya bangga ketika karya saya mengatasnamakan Indonesia di dalamnya, di kenal di manca negara.</p>
<p>Hidup Indonesiaku. Dirgahayu ke-65, MERDEKA!</p>
</div>
</div>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=411&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin Film Tuh yang Buagus Gitu Loch&#8230;</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/12/16/bikin-film-tuh-yang-buagus-gitu-loch/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/12/16/bikin-film-tuh-yang-buagus-gitu-loch/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aduh bisa gak seh, bikin film tuh yang buagus gitu loch, kok semuanya kaya kacang goreng, bikinnya sama, plotnya sama&#8221;, demikian kiranya kutipan dari beberapa komentar yang berhasil dirangkum oleh teman-teman saya di komunitas perfilman (Komunitas Layar Film). Menggeliat pastinya, produksi film Indonesia memang lagi marak dan tidak bisa dipungkiri membawa angin segar baru ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Aduh bisa gak seh, bikin film tuh yang buagus gitu loch, kok semuanya kaya kacang goreng, bikinnya sama, plotnya sama&#8221;, demikian kiranya kutipan dari beberapa komentar yang berhasil dirangkum oleh teman-teman saya di komunitas perfilman (<a title="Komunitas Layar Film" href="http://www.layarfilm.com" target="_blank">Komunitas Layar Film</a>).</p>
<p>Menggeliat pastinya, produksi film Indonesia memang lagi marak dan tidak bisa dipungkiri membawa angin segar baru ke kalangan senias dan masyarakat kita.</p>
<p>Tapi warna plot yang sama membuat warna perfilman kita hilang, kalau dipikir-pikir, nuansa film komedi sekarang merajai perfilman Indonesia, ngomong-ngomong, kemana warna film perjuangan kita, ya bagaimana negara ini bisa menghargai pahlawannya, jika kita hanya disuguhkan sejarah pada saat sekolah, dan dibangunkan kembali ingatan kita setiap tanggal 10 November?. Sebuah kenyataan yang membuat saya dan beberapa orang yang konsen di dunia perfilman mencoba melirik kembali film-film perjuangan jaman jadul dari era 50an sampai 70an, seperti Anak-anak Revolusi, Mereka Kembali, Romusha dan lain-lain.</p>
<p>Mencoba tampil modern, boleh saja, tapi apa tampil modern bisa memikat hati penonton, belum tentu, kesan modern, tapi murahan, kampungan, menjual yang &#8220;tidak penting&#8221; juga menjadi cibiran beberapa orang penikmat film. Sungguh sayang, jika sedang menggeliat dan menjamurnya produksi film kita ternyata, dibumbuhi banyaknya orang mencari film-film luar untuk konsumsinya, dibandingkan memadati bioskop kita untuk menonton film produksi anak bangsa, karena apa ya itu tadi, filmnya tidak membuat terkesan &#8220;WAH&#8221; dan &#8220;MENARIK&#8221;, jadi sehabis lepas dari bioskop kesan itu hilang dan hanya menjadi perbincangan sesaat.<span id="more-147"></span></p>
<p>Kembali kemasalah perfilman kita yang tidak mengulas soal perjuangan lagi, terkecuali film Naga Bonar Jadi 2, dan Naga Bonar yang di tayangkan kembali, yang heroik dan menyegarkan, tapi kemana lagi film-film serupa bisa menambah keinginan kita untuk bisa memberikan penyegaran kepada anak bangsa tentang perjuangan negeri ini merebut kemerdekaan?. Masalah &#8220;kemerdekaan&#8221; ini pun juga menjadi polemik yang baru, sudah dikasih merdeka dalam membuat film, menampilkan ekspresi dan apresiasi senias film lewat bioskop, malah terkesan bablas angine. Kontrol yang tidak jelas, kembali ke ala Warkop yang menghibur tapi tidak memberikan hasil yang fenomenal, seperti Warkop sendiri, kalau ditanya, apa seh yang Anda ingat ketika nonton Warkop?, beberapa yang saya tanyai dan ini merupakan para pria mereka bilang, rok mini dan gadis-gadis, emm&#8230; pemandangan bagus yang mereka dapatkan, kepuasan tentu mereka dapatkan secara visual, tetapi dilain pihak mereka juga terhibur dengan ulah Trio Warkop yang akhirnya fenomenal. Nah sanggupkah senias kita buat seperti itu?.</p>
<p>Peranjakan yang menarik dari sebuah revolusi film kita, dari Horor yang terkesan &#8220;aneh&#8221;, kadang &#8220;tidak menyeramkan&#8221; juga, dibubuhi film drama picisan yang plotnya mirip-mirip, sekarang menjamur kembali film Komedi bernuansa perkotaan yang kental, menyuguhkan pergaulan bebas dan juga kontrol lepas. WASPADALAH&#8230; WASPADALAH, mungkin himbauan ini akan sama dengan himbauan sergap di RCTI tapi memang kita harus berwaspada, karena tidak baik untuk konsumsi anak-anak dan remaja, semakin menjerumuskan, walaupun disuguhkan akibat di ujung cerita, tapi sama saja, mengarahkan dengan memberikan sentuhan manis dan kenikmatan kepada penonton, wal hasil akibat itu menjadi di nomor kesekiankan.</p>
<p>Apa yang menarik untuk film-film luar yang bisa dikatakan punya rating bagus?, banyak hal, ceritanya kuat, menampilkan sesuatu yang berbeda, tapi tak lepas dari bumbu percintaan yang diselipkan pas di momen-momen tertentu, hanya untuk penyegaran dari sebuah film yang serius. Tapi apa makna dari sebuah film bagus? ini pernah ditanyakan kepada saya oleh salah satu wartawan tabloid ibukota KONTAN kepada saya, pastinya, film itu menyuguhkan yang berbeda, memberi kesan dalam dan kita tidak mudah melupakannya, kuat dari segala faktor, akting, visual, sound dan lainnya, punya makna, dan pesan moral, merupakan standar film baik, yang menghasilkan film bagus.</p>
<p>SO&#8230; buat senias kita, &#8220;Ya mbok, Bikin Film Tuh yang Buagus Gitu Loch&#8230;&#8221; hehehehe&#8230;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=147&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/12/16/bikin-film-tuh-yang-buagus-gitu-loch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hollywood Meriang, Asia Berjaya</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/10/29/hollywood-meriang-asia-berjaya/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/10/29/hollywood-meriang-asia-berjaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 02:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Anda pasti sudah tau dengan perkembangan film Hollywood, film-film yang diproduksi oleh Amerika ini telah merajai dunia dengan cepat dan menjadi industri yang ikut serta dalam pembangunan negaranya. Dengan gaya film yang dituangkan berhasil mencangkup keinginan masyarakat dunia, berlomba untuk bisa menonton film-film yang telah rilis untuk mengetahui isi cerita, dan mereka berhasil menciptakan penonton [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pasti sudah tau dengan perkembangan film Hollywood, film-film yang diproduksi oleh Amerika ini telah merajai dunia dengan cepat dan menjadi industri yang ikut serta dalam pembangunan negaranya. Dengan gaya film yang dituangkan berhasil mencangkup keinginan masyarakat dunia, berlomba untuk bisa menonton film-film yang telah rilis untuk mengetahui isi cerita, dan mereka berhasil menciptakan penonton hidup dalam dunia film yang mereka tonton.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin:5px" src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10006/Kuch_Kuch_Hota_Hai.jpg&amp;size=200" alt="Kuch Kuch Hota Hai" />Hal ini memang tidak untuk semua film yang telah diproduksi oleh mereka. Dengan adanya krisis moneter yang melanda Amerika, sebenarnya menambah kekhawatiran mereka dengan invasi film-film mereka di Asia. Dengan pangsa pasar film yang sudah harus menunggu, alias antri di jajaran film Bollywood yang berkembang di negerinya sendiri, India sampai beberapa negara Asia lainnya yang juga menggemari film ini. Dari cara mereka yang menarik dengan melempar stir ke film drama percintaan, dari film-film action, membawa mereka menjadi pasar film yang juga diperhitungan, awal kesuksesan yang manis, ketika film <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/1998/4943/kuch_kuch_hota_hai">Kuch Kuch Hota Hai</a> yang mengharu biru, berhasil membuat image film Bollywood berubah dan berhasil juga menjadi totonan wajib bagi Inggris yang menjadi sasaran film-film Bollywood untuk lokasi film mereka.<span id="more-131"></span></p>
<p>Hollywood kembali harus menggigit jari ketika film-film mereka pun harus antri dijajaran bioskop film indonesia, selain harganya yang relatif mahal, perfilman Indonesia yang semakin menggeliat, membuat film-film Hollywood hanya bisa dinikmati beberapa saja dalam satu bulan, berbeda di tempat produksinya. Saat ini kita juga bisa melihat film-film mereka sudah mulai me-<em>remark </em>dari film-film Asia, lebih tepatnya untuk jenis film horror, yang sudah terkenal menyeramkan dan berhasil menyedot penonton film horror, dibandingkan dengan produksi film horror mereka yang &#8220;Tidak Nyata&#8221;, tetapi walaupun telah dikemas dengan baik, film-film daur ulang ini pun tak bisa menyaingi film pertamanya yang telah <em>nyangkut </em>dihati penikmat film.</p>
<p><img class="alignright" style="margin:5px" src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10006/the-eye-poster.jpg&amp;size=200" alt="The Eye" />Kita ambil contoh <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/mar_2008/5282/shutter">Shutter</a>, <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/oct_2007/4251/the_eye">The Eye</a>, film remark ini merupakan kegagalan mereka yang kembali terulang, tapi bersyukur mereka menempatkan <strong>Jessica Alba</strong> pada film tersebut. Setelah film, mereka pun harus bisa mengalah dengan Sinetron Indonesia yang kini lebih banyak memenuhi layar televisi dibandingkan dengan serial televisi mereka ataupun opera sabun yang biasanya menghiasi tayangan mesin kotak empat tersebut. Lain Indonesia, lain juga korea, setelah sukses menghasilkan julukan &#8220;<a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/tv_series/korean">Korean Drama</a>&#8221; ini, dia pun berhasil membuat pasarnya sendiri di Asia, dan kini merambah lebih luas.<img class="alignleft" style="margin:5px" src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10002/Goong.jpg&amp;size=200" alt="Goong" /> Kesuksesan drama seri <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/tv_series/korean/1733/goong">Princess Hour (Goong)</a> pun memicu produksi mereka mendunia. Hollywood semakin khawatir dengan invasi besar-besaran produksi drama seri Korea ini yang diproduksi masal, dan juga berkualitas. Kita bisa lihat bagaimana drama Korea ini diadaptasi ke dalam sinetron-sinetron kita. Merekapun dengan mudah mendepak invasi drama seri Taiwan yang dulu pernah merajai Indonesia dengan drama yang paling disukai oleh kaula muda, yaitu <strong>Meteor Garden</strong>.</p>
<p>Sebuah keberhasilan dari sebuah kerjasama dan berusaha terus untuk menjadi yang terbaik, merupakan hal paling diinginkan. Bagaimana film-film Asia menjadi raja di regionalnya sendiri, ini merupakan sebuah keberhasilan buat kita semua, karena nilai-nilai budaya Asia bisa ditampilkan dalam film, menciptakan kecintaan kepada produksi film sendiri, dan semakin memacu perfilman itu sendiri. Dan biarkan Amerika terus meradang, dan film-film kita tetap berjaya. Biarkan Hollywood itu meriang, dan Asia berjaya <img src='http://constantio.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=131&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/10/29/hollywood-meriang-asia-berjaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi yang Memukau, Film Terbaik Sepanjang Tahun</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/10/29/laskar-pelangi-yang-memukau-film-terbaik-sepanjang-tahun/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/10/29/laskar-pelangi-yang-memukau-film-terbaik-sepanjang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 01:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi film yang diangkat dari novel yang telah menjadi best seller dan fenomenal dari Andrea Hirata, menggambarkan kehidupan pelik anak-anak miskin Belitung yang terus menggantungkan cita-citanya lewat pendidikan murah di sebuah SD Muhammadiyah Belitong, sekolah Islam pertama dan satu-satunya di salah satu kota terkaya di Indonesia. Laskar Pelangi merupakan pencerminan sebuah perjuangan anak-anak miskin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi film yang diangkat dari novel yang telah menjadi best seller dan fenomenal dari Andrea Hirata, menggambarkan kehidupan pelik anak-anak miskin Belitung yang terus menggantungkan cita-citanya lewat pendidikan murah di sebuah SD Muhammadiyah Belitong, sekolah Islam pertama dan satu-satunya di salah satu kota terkaya di Indonesia.</p>
<p><a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/21305/laskar_pelangi">Laskar Pelangi</a> merupakan pencerminan sebuah perjuangan anak-anak miskin yang ingin tetap mewujudkan mimpinya menjadi nyata, bersama membangun image sekolah mereka kembali yang tidak pernah ada adik-adik kelas mereka sejak kesepuluh anak paling mengagumkan itu telah menyelamatkan sekolah tersebut yang terancam di tutup, Harun, seorang anak yang telah menjadi anak paling berjasa karena telah membuat sembilan anak lainnya tidak kecewa untuk kembali pulang dengan harapan yang kandas untuk sekolah.<span id="more-140"></span></p>
<p>Perjalanan guru-guru disini pun ditampakkan, bagaimana semuanya dilakukan dengan ikhlas dan penuh ketulusan, walaupun apa yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan kebutuhan yang merong-rong mereka, tujuan mereka hanya satu, &#8220;Membuat anak-anak miskinpun berhak untuk mendapatkan pendidikan&#8221;, saya melihat bahwa kunci inilah yang coba di urai dengan kisah perjalanan yang membukau dan mengharukan, dan diselingi kisah cinta Ikal dengan A Ling yang disuguhkan dengan lucu, khas cinta monyet yang membuat kita tak henti berdecak kagum, bagaimana cerita begitu sederhana bisa membawa kita terbuai, larut kedalamnya.</p>
<p>Tak lupa ajaran-ajaran agama Islam yang disuguhkan terselip dalam beberapa adegan dengan implisit yang tertata dan bagus untuk disuguhkan sebagai film pelengkap liburan anak Anda semasa liburan lebaran ini. Anak-anak kita yang hidup di perkotaan, yang serba kecukupan, atau bahkan begitu menyepelekan arti pendidikan, perlu dijejali film ini, sebagai pendorong semangat bagaimana mereka harus terus menggantungkan cita-cita mereka setinggi langit dengan segala daya upaya untuk mewujudkannya.</p>
<p>Tapi terkadang apa yang kita lakukan tidak seperti kenyataan yang digariskan, Lintang salah satu anak paling cerdas diantara Laskar pelangi ini, harus meninggalkan bangku sekolahnya, setelah memenangkan Lomba Cerdas Cermat, karena ayahnya telah meninggal dunia, dan dia harus menggantikan posisi ayahnya untuk menghidupi adik-adiknya. Sebuah polemik yang kita tidak inginkan, setidaknya saya berharap Lintang bisa menjadi manusia berhasil dimasa datang, tapi dia memang telah berhasil, karena dia berhasil membuat Ikal bisa meraih cita-citanya atas dorongan Lintang, dan menularkan semangat belajarnya kepada anak perempuannya.</p>
<p>Memang semua orang tua tidak menginginkan anak-anak mereka hanya bisa seperti mereka, hidup dalam kesusahan, tidak berpendidikan, mereka berupaya untuk menjadikan anak-anaknya lebih baik dikemudian hari, tapi apa yang kita dapatkan kenyataan di kota-kota besar, mungkin hanya segelintir orang tua seperti itu, contohlah Jakarta, bagaimana exploitasi orang tua kepada anak-anak tampak semakin jelas dan semakin banyak, anak-anak dijadikan media pengganti orang tua untuk mencari nafkah.</p>
<p>Inilah Indonesia wahai saudaraku, film mungkin bisa saja membuat kita tercerai berai air mata, berdecak kagum, terharu, bahkan terpingkal oleh ulah anak-anak Laskar Pelangi dan perjuangan Bu Muslimah (Cut Mini), Pak Harfan (Ikranagara) yang memacu ardrenalin kita untuk membuat Indonesia lebih baik, tapi apa yang kita hadapi sekarang lebih pelik dari sebuah cerita yang membukau, perjuangan yang mengharu biru, warna hidup yang suram. Warna Indonesia sudah lebih parah dari itu, mungkin saya menyarankan film ini menjadi tontonan wajib para petinggi negara, ya kalau bisa NOBAR seluruh anggota MPR, DPR, mentri hingga Presiden, duduk bersama meresapinya, dan coba merefleksikannya dengan kenyataan Indonesia yang ada saat ini, sudah tercapaikan cita-cita UUD 1945 untuk mencerdaskan seluruh bangsa Indonesia, dan adakah perlindungan hak anak yang ada di Indonesia sudah sesuai dengan cita-cita negara kita, dari pada mereka sibuk memperkaya diri, menjejali mulut mereka dengan uang, membuat perut mereka semakin buncit dengan kandungan ulat haram yang siap meledak di hari pembalasan, atau sibuk dengan urusan politik yang berputar tak berujung.</p>
<p>Tapi dari semua film Indonesia yang diputar di bioskop-bioskop tahun ini, Laskar Pelangi merupakan film terbaik sepanjang tahun 2008, dan seharusnya film seperti inilah yang diangkat dan di tuangkan di big screen Indonesia, bukan cerita Urban dan Horror, bahkan percintaan dengan model yang sama. Dengan balutan budi pekerti, nilai-nilai agama yang bisa menjadikan masyarakat film lebih cerdas dari sekarang.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=140&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/10/29/laskar-pelangi-yang-memukau-film-terbaik-sepanjang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbondong-bondong Membuat Sequel Film</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/10/16/berbondong-bondong-membuat-sequel-film/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/10/16/berbondong-bondong-membuat-sequel-film/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 12:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[What&#8217;s Up?, Hollywood sedang gencar-gencarnya membuat film Sequel bahkan, film yang belum resmi tayangpun, sudah dihadapkan dengan rencana membuat sequelnya, wow, contoh tentang film Jumper yang baru selesai syuting filmnya, sudah menjadi perbincangan untuk pembuatan sequelnya, seakan mereka tahu film ini akan dinikmati dan menjadi film favorit masyarakat nantinya, dan tebakan itu tentulah bukan hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin:5px" src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10014/twilight.jpg&amp;size=200" border="0" alt="Twilight" />What&#8217;s Up?, Hollywood sedang gencar-gencarnya membuat film Sequel bahkan, film yang belum resmi tayangpun, sudah dihadapkan dengan rencana membuat sequelnya, wow, contoh tentang film <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/feb_2008/4278/jumper">Jumper </a>yang baru selesai syuting filmnya, sudah menjadi perbincangan untuk pembuatan sequelnya, seakan mereka tahu film ini akan dinikmati dan menjadi film favorit masyarakat nantinya, dan tebakan itu tentulah bukan hanya sebuah bualan. Memang rata-rata film yang akan dibuat sequelnya menjadi favorit dan menyerap banyak penonton di dalam penayangannya.</p>
<p><img class="alignright" style="margin:5px" src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10024/kawin-kontrak-lagi.jpg&amp;size=200" border="Kawin Kontrak" alt="" />Hal ini juga terjadi di Indonesia, mungkin untuk sequel bisa dilihat pada cerita <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/22932/kawin_kontrak_lagi">Kawin Kontrak Lagi</a>, mengingat film pertamanya pernah sukses, <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/6293/kawin_kontrak">Kawin Kontrak</a>. Bukan itu saja, bahkan film <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/20663/chika">Chika </a>pun disebut-sebut sebagai ciplakan film Eiffel I&#8217;m In Love, walaupun bukan disebut sequel, hanya seperti mencoba mendulang sukses dengan balutan cerita yang sama. Yang disayangkan mengapa film-film komersial seperti ini yang diangkat kembali kepermukaan, masih ingat film <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/tba/10559/pulau_hantu_2">Pulau Hantu 2</a>, sebagai lanjutan film <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2007/5195/pulau_hantu">Pulau Hantu</a>, Pocong, <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2006/3946/pocong_2">Pocong 2</a>, <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2007/4760/pocong_3">Pocong 3</a>, Kuntilanak <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2006/3974/kuntilanak">1</a>, <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2007/4769/kuntilanak_2">2</a>, dan <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/6792/kuntilanak_3">3</a>?, yang semuanya berbau horror dan komedy, sukses, lucu, dan menguntungkan, tentu saja.</p>
<p><span id="more-127"></span></p>
<p>Tapi inilah bisnis entertainment, kebanyakan dari para produsen film lebih memandang untuk segi komersialitasnya yang tinggi, sehingga mencoba untuk mendulang uang kembali dengan membuat sequelnya, atau berdasarkan banyak penonton yang terserap pada film pertamanya. Tapi berapa persen dari film sequel yang sukses dibandingkan film perdananya?, mungkin hanya segelintir saja, dengan format yang sama dan tidak beranjak dari cerita awal menjadikannya tidak menarik lagi, ini menjadi Pe-er bagi para senias kita, sequel bukan untuk mencoba sukses kembali seperti album Cangcutters yang lagi digandrungi masyarakat Indonesia, tapi juga harus memikirkan kualitas, segi cerita yang lebih menarik. Tapi tak jarang jeda antara film perdananya dengan film sequelnya kurang dari satu tahun, seperti sedang kejar tayang sinetron saja.</p>
<p>Tapi tidak dapat dipungkiri masyarakat film bukan hanya di Indonesia kadang berusaha untuk menebak-nebak &#8220;Seperti apa cerita selanjutnya, jika saja film ini ada lanjutannya?&#8221;, nah dengan pemikiran yang sama para pembuat film mencoba memuaskan penontonnya. Tapi malah kadang juga ada yang berfikir bahwa seperti mereka kehilangan ide baru sehingga harus melanjutkan sebuah cerita yang sudah punya dasar ide yang menarik dan berhasil memikat penonton.</p>
<p>Tapi apapun alasannya, saat ini seperti yang saya paparkan diawal sudah diperbincangkan untuk membuat sequelnya bahkan sebelum film itu beredar di layar besar. Ini beberapa daftar film yang sudah di rencanakan sequelnya:</p>
<ul>
<li>&#8220;TR2N&#8221; &#8211; Sequel Film Sience Fiction 80&#8242;an yang berjudul &#8220;Tron&#8221;</li>
<li>&#8220;Wild Hogs 2&#8243; &#8211; Sequel film komedi dari Wild Hogs</li>
<li>&#8220;Alvin and the Chipmunks 2&#8243; &#8211; Sequel dari film keluarga yang menjadi hits</li>
<li>&#8220;Night at the Museum 2&#8243; &#8211; Sequel film komedy Ben Stiller yang fantastis</li>
<li>&#8220;Iron Man 2&#8243; &#8211; Sequel film dari film Iron Man</li>
<li>&#8220;Sex and the City 2&#8243; &#8211; Sequel dari film komedi yang memiliki rating bagus tahun ini</li>
<li>&#8220;Transformers: Revenge of the Fallen&#8221; &#8211; Mereka kembali beraksi.</li>
<li>&#8220;Terminator Salvation&#8221; &#8211; Sequel film Science Fiction dari McG-helmed</li>
</ul>
<p>Dan yang terhangat adalah <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/dec_2008/5338/twilight">Twilight </a>yang akan baru tayang pada tanggal 21 November 2008, walaupun ini masih dalam wacana, dan kita tunggu saja film ini apakah benar akan mendulang sukses seperti film perdananya, sebut saja seperti <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/jul_2008/4318/the_dark_knight">The Dark Knight</a> yang akan dibuat seri lanjutannya, hingga harus membuat film lanjutan Superman mengalah untuk tayang karena menunggu jadwal tayang perdana dari film ketiga cerita <a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/movie_previews/jun_2005/392/batman_begins">Batman Begins</a> ini.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=127&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/10/16/berbondong-bondong-membuat-sequel-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2008 diwarnai hebohnya Laskar Pelangi</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/10/13/2008-diwarnai-hebohnya-laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/10/13/2008-diwarnai-hebohnya-laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 11:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sangka berdasarkan kisah yang dipaparkan oleh Andrea Hirata yang sangat mengagumi Bu Muslimah, menjadikannya penulis novel paling disorot saat ini, buah karya yang dihasilkannya, Laskar Pelangi merupakan novel paling fenomenal, hingga Riri Riza bersedia mengangkatnya ke layar kaca. Walaupun ada hal-hal yang masih dianggap kurang dari apa yang diangkat, tapi perlu kita acungi jempol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.thebestmoviereview.com/thumb.php?file=albums/userpics/10022/laskar-pelangi.jpg&#038;size=200" class="alignleft" style="margin:5px" alt="Laskar Pelangi" />Siapa sangka berdasarkan kisah yang dipaparkan oleh Andrea Hirata yang sangat mengagumi Bu Muslimah, menjadikannya penulis novel paling disorot saat ini, buah karya yang dihasilkannya, <a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/21305/laskar_pelangi"><strong>Laskar Pelangi</strong></a> merupakan novel paling fenomenal, hingga Riri Riza bersedia mengangkatnya ke layar kaca. Walaupun ada hal-hal yang masih dianggap kurang dari apa yang diangkat, tapi perlu kita acungi jempol, setidaknya film juga tidak bisa menterjemahkan isi novel secara keseluruhan, dimana satu rol filmpun tidak akan memuat seluruh isi cerita dalam novel tersebut bukan?</p>
<p><i>Cuplikan Film:</i> <script type="text/javascript" src="http://www.longtailvideo.com/js/swfobject.js"></script></p>
<div id="mediaspace" name="mediaspace">&nbsp;</div>
<p><script type="text/javascript">var so = new SWFObject ("http://www.thebestmoviereview.com/media/player.swf", "single", "400", "300", "9");so.addParam("allowfullscreen", "true");so.addParam("wmode","transparent");so.addParam("allowScriptAccess", "always");so.addVariable("channel", "1841");so.addVariable("plugins", "ltas");so.addVariable("height", "300");so.addVariable("width", "400");so.addVariable("file", "http://www.youtube.com/v/of10JiE7bGI&#038;image=http://www.thebestmoviereview.com/albums/userpics/10022/laskar-pelangi.jpg&#038;logo=http://www.thebestmoviereview.com/images/newlogo.png");so.write("mediaspace");</script><script language="JavaScript" src="http://www.ltassrv.com/serve/api5.4.asp?d=1651&#038;s=1887&#038;c=1841&#038;v=1"></script><span id="more-134"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang menyebabkan sebuah cerita sedehana seorang Andrea begitu membukau, intinya adalah sebuah ketulusan pemaparan yang disampaikan, cerita yang dialaminya sendiri, baik suka maupun duka, bagaimana sebuah hiburan dan seni tercipta secara bersamaan, &quot;Saya bukan pujangga&quot;, begitu Andrea menegaskannya beberapa kali, sama seperti puisi saya <a href="http://warnaislam.com/umum/puisi/2008/9/21/47123/Aku_bukan_seorang_pujangga.htm">Aku bukan seorang Pujangga</a>, bagaimana seorang yang bisa menciptakan sebuah karya fenomenal masih berendah hati mengatakannya, dan dia binggung sendiri bisa melihat kesuksesan film yang di ramu oleh Riri Riza akan sebagus hasilnya yang kita tonton di bioskop-bioskop.</p>
<p>Film yang juga memberikan pencerahan untuk kehidupan kita, setidaknya bagus untuk konsumsi orang kota yang terlalu hidup Urbanis, dan metropolis yang perlu melihat ke bawah dan merenungi, bahwa banyak diantara masyarakat Indonesia ini masih harus berjuang lebih untuk bisa meraih cita-citanya, bahkan harus berjuang dengan lebih keras, walaupun banyak disekeliling mereka dapat membantu, hanya bisa menjadi penonton setia, menunggu kapan ceritanya berakhir.</p>
<p>Ini sebuah perjuangan yang harus diresapi para pendidik di Indonesia sekarang ini, berapa banyak orang seperti bu Muslimah?, berapa banyak mereka yang bisa mengabdikan dirinya secara tulus untuk mendidik bangsa ini?, tanpa harus memikirkan berapa yang mereka dapatkan setelah mereka mendidik anak-anak ini. Jangan salah banyak sekali orang-orang pendidik kita yang mulai sukses dan juga lupa tentang bagaimana mengabdikan diri lewat hatinya bukan lewat berapa yang saya akan hasilkan. Setidaknya Allah akan memberikan balasan yang setimpal nantinya dari apa yang pernah kita berikan.</p>
<p>Masih ingat Presiden dan jajarannya Nobar untuk bersama-sama melihat hebohnya Laskar Pelangi, atau mungkin beliau mendengar himbauan saya di pembahasan lalu?, semoga saja, karena ini yang harus mereka lihat, mereka resapi, bahwa Pe-er mereka masih banyak, bukan melihat hanya sekedar industri film sudah memberikan sumbangsih yang besar pada negeri ini sejak tahun 2002, atau bahkan memuji para senias film yang makin memarakkan perkembangan entertainment di Indonesia, tapi juga pe-er tentang pengentasan kemiskinan, yang sekarang menjadi PE-ER besar, dan juga menciptakan pendidikan murah yang semakin jauh saja dari jangkauan walaupun sudah ada BOS (Bantuan Operasi Sekolah) yang diberikan pemerintah, tapi tahukah bahwa penyelewengan-penyelewengan masih berjalan bebas, lenggang kangkung sambil tertawa diatas penderitaan para murid miskin ini?.</p>
<p>Negara ini besar, kaya dan mungkin kalau saja pemimpinnya bisa lebih memanage pemerintahannya lebih baik, dan bisa menyadarkan masyarakatnya, tidaklah mungkin kita bisa menjadi negara super power lebih dari Amerika yang sumber daya alamnya sangat kecil dibandingkan kita. Yang kita lihat di film ini juga bagaimana kita boleh bermimpi, boleh sampai setinggi langit, tapi setidaknya kita tidak hanya bisa bermimpi, tapi juga harus bisa menjadikannya nyata, makna-makna sosial dan estetika dirangkum dalam sebuah cerita film yang menghebohkan tahun ini, walaupun film serupa pernah ada, yaitu Denias.</p>
<p>Kalau kita selidiki, film-film sederhanalah yang bisa menyedot antusias masyarakat, bahkan bisa menjadi film terbaik dalam tahun penayangannya. Kesederhanaan, realita, perjuangan, dan ketulusan masih menjadi point penting dalam dua film anak-anak ini. Kita berharap saja kehebohan yang terjadi bukan berhenti begitu saja, dan senias film kembali berkutat pada film-film horor atau komedi, tapi juga memberikan warna baru, terbukti malah jenis film ini lebih menyedot penonton bahkan sudah memecahkan rekor dibeberapa hari penayangannya.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=134&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/10/13/2008-diwarnai-hebohnya-laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Bahas Dunia IT, Indonesia Bahas Urban Lifestyle</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/09/22/dunia-bahas-dunia-it-indonesia-bahas-urban-lifestyle/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/09/22/dunia-bahas-dunia-it-indonesia-bahas-urban-lifestyle/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 12:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Industri perfilman kita makin mengeliat, tapi seperti yang saya ulas di artikel saya yang lalu, fenomena perfilman sepertinya balik ke era jaman Warkop yang doyan menghumbar aurat dan gaya hidup perkotaan dengan aroma HARAM yang kuat. Fenomena dunia malah mulai meninggalkan itu, dengan dunia IT yang semakin berkembang, film-film dunia menggunakan teknologi ini dengan baik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Industri perfilman kita makin mengeliat, tapi seperti yang saya ulas di artikel saya yang lalu, fenomena perfilman sepertinya balik ke era jaman Warkop yang doyan menghumbar aurat dan gaya hidup perkotaan dengan aroma HARAM yang kuat.</p>
<p>Fenomena dunia malah mulai meninggalkan itu, dengan dunia IT yang semakin berkembang, film-film dunia menggunakan teknologi ini dengan baik, bahkan menampilkannya secara visual dengan baik dan pas. Ingat bagaimana cerita tentang Die Hard 4.0, yang hampir membuat saya sangat shock, bagaimana film ini betul-betul menonjolkan begitu pentingnya teknologi dalam kehidupan manusia, dibandingkan film-film yang mengungkapkan tentang drama konyol, berbalut komedi cinta yang norak dan menghumbar aurat, tapi UPS, hal ini tak bisa kita pungkiri masih menjadi LEVEL 1 dari jajaran film di Indonesia.<span id="more-138"></span></p>
<p>Tapi tentu gak berlaku bagi mereka yang cukup cerdas dalam memilih film, atau bahkan bagi Anda yang suka dengan perkembangan teknologi, penuh imajinasi hebat, dan haus dengan visual efek yang keren, <strong>Untraceable</strong> memberikan sesuatu yang tak kalah menarik, dengan ulasan yang harus dicerna dengan baik ketika Anda menontonnya, tapi dia juga memberikan informasi kejahatan melalui dunia IT, bagaimana film ini membuat orang harus menyaksikan kematian orang lain demi membalaskan dendam sang psikopat yang sekaligus pemilik situs dan paham dengan IT dengan sangat baik, sayangnya kebohongan dia terekam diakhir cerita yang membuat orang menyayangkan hilangnya banyak nyawa karena kebohongannya tentang pengunjung situs yang dia tingkatkan secara fiktif.</p>
<p>Lalu film-film berat yang menyentuh dengan pantas, bahkan di Indonesia sekalipun, <strong>The Dark Knight</strong>, bagaimana film ini begitu cerdas untuk memaparkan isi cerita dengan efek yang luar biasa, dimana dunia perfilman kita masih sibuk dengan balutan cerita drama komedi ala Urban dan sibuk mencari pemain yang mau menjadi sasaran untuk objek seks yang bagus. Indonesia betul-betul harus berkaca dengan ribuan layar plus-plus untuk bisa menghasilkan film-film bagus bahkan untuk sekelas <strong>Casper</strong> sekalipun.</p>
<p>Walaupun begitu industri film di luar negeri yang memang semakin pesat, kita disuguhkan dengan beberapa film yang juga mencerita kehidupan percintaan, politik, kekerasan, fantasi, bahkan <em>science fiction</em> yang beragam. Meskipun ada beberapa yang saya nilai memiliki rating jelek bahkan saya berfikir, apakah mereka terlalu cerdas untuk membuat film sehingga terlalu bodoh dengan membuat film tak bermutu. Yang membuat saya begitu makin menyukai film-film berbau teknologi di semua jenis film yang ditampilkan, adalah mereka pas memaparkannya, walaupun hanya lewat sebuah rekaman handphone sekalipun.</p>
<p>Benar-benar menjadi Pe-er buat kita, sebagai negara penghasil film yang sudah bisa dikatakan lumayan di kawasan Asia, walaupun kita masih kalah dengan produksi film India, Korea, Cina, dan Jepang yang masih merajai dunia perfilman Asia. Ok satu hal lagi, karena film Indonesia juga belum di ekspor agar pantas untuk menjadi tontonan negara lainnya. Kecuali Malaysia yang kini semakin terancam juga dengan banyaknya film-film Indonesia bertebaran di bioskop-bioskop kota mereka. Tapi saya masih ingat ketika ajang <strong>JIFFEST </strong>tahun lalu, QUICKIE EXPRESS tidak bisa diterima di Malaysia karena jenis filmnya tidak pantas masuk ke negeri Jiran yang memegang nilai-nilai agama Islam dengan kuat. <em>But wait</em>, bukannya penduduk beragama Islam di Indonesia lebih banyak, dan bukannya Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam nomor wahid di dunia, tapi kok malah memproduksi film-film jenis ini. Lagi-lagi jawaban klasik yang kita dapatkan, &#8220;karena Indonesia, negara fleksibel dan lentur&#8221;.</p>
<p>Tapi kita tak cukup lentur untuk membuat film-film cerdas dengan isi manusia-manusia luar biasa. Dan apakah benar pendapat beberapa orang yang menyatakan &#8220;orang Indonesia yang benar-benar cerdas sudah habis, karena mereka lebih banyak hengkang dan mencoba peruntungan di negara yang lebih bisa menghargai otaknya&#8221;, dibandingkan sebuah sandungan dengan prinsip dan konsumsi pasar?</p>
<p>Ini bukan Pe-er untuk para pembuat film, pengamat film, tetapi semua untuk lebih kritis dalam memberikan statement agar kita tak lagi makin terpuruk dalam balutan film Urban yang makin marak.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=138&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/09/22/dunia-bahas-dunia-it-indonesia-bahas-urban-lifestyle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinetron Melupakan Nilai-nilai Pendidikan</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/09/11/sinetron-melupakan-nilai-nilai-pendidikan/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/09/11/sinetron-melupakan-nilai-nilai-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 09:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Sinetron, ladang uang untuk para pelakon di industri televisi di Indonesia, bahkan sinetronpun sudah ada yang di export ke luar negeri, walau terbilang tidak merambah jauh ke belahan dunia tertentu, hanya negara tetangga, yaitu Malaysia, tapi dibalik itu semua, hanya segelintir saja yang menyukai sinetron, siapa mereka, tak lain dan tak bukan adalah ibu-ibu rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sinetron</strong>, ladang uang untuk para pelakon di industri televisi di Indonesia, bahkan sinetronpun sudah ada yang di export ke luar negeri, walau terbilang tidak merambah jauh ke belahan dunia tertentu, hanya negara tetangga, yaitu Malaysia, tapi dibalik itu semua, hanya segelintir saja yang menyukai sinetron, siapa mereka, tak lain dan tak bukan adalah ibu-ibu rumah tangga.</p>
<p>Tetapi kemudian sinetron ini menjadi lebih marak dan memenuhi setiap sudut televisi disaat yang bisa dikatakan &#8220;WAKTU STRATEGIS&#8221; untuk ditayangkan, tetapi kemudian keragamannya tidak seperti dulu, semua berpusat pada suatu garis yang sama, KEKAYAAN, DENGKI, IRI HATI dan KEJAHATAN. Fenomena apa ini, apa karena sebagian PH yang memproduksi sinetron berasal dari negeri Taj Mahal yang memang memiliki garis cerita film yang notabeni sama dengan apa yang diterapkan di negeri tercinta ini.<span id="more-145"></span></p>
<p>Kebetulan saya banyak bergaul dengan orang pendidikan, dan mereka banyak mengeluh tentang sinetron-sinetron saat ini yang sudah melenceng jauh dari sentuhan yang mendidik, setidaknya sinetron-sinetron yang ditayangkan juga menjadi konsumsi anak-anak yang memang tidak dikontrol, atau dibiarkan orang tuanya untuk menontonnya. Mereka mengeluhkan tentang &#8220;budaya&#8221; yang diangkat oleh sinetron-sinetron yang berkembang saat ini. Masih ingatkah Anda tentang teguran penayangan &#8220;Upik Abu dan Laura&#8221; yang mendapat kecaman hebat, hingga akhirnya sinetron ini di format ulang dengan mengikuti aturan dan tidak memberikan efek &#8220;kekerasan&#8221; seperti yang ditayangkan sekarang, walaupun malah sama &#8220;WUEDAN&#8221;-nya dengan sebelumnya.</p>
<p>Nah sekarang kita lagi dibanjiri dengan sinetron-sinetron religi menyambut bulan suci Ramadhan, yang masih tetap saja membawa ala INDIA didalamnya, padahal untuk film dan sinetron India pun tidak separah di Indonesia. Para pendidik, terlebih guru-guru SD sangat menyayangkan dengan penayangan sinetron yang &#8220;DIKONSUMSI&#8221; oleh anak-anak, dan contoh yang lebih kacau lagi adalah sinetron &#8220;CINTA SMU&#8221; yang sedang digandrungi karena tokoh Baim didalamnya, tapi apa yang membuat sinetron ini menjadi bahan BLACKLIST saya yang paling parah, yaitu sinetron ini merupakan sinetron pembodohan massal, ambil contoh episode dimana BAIM jadi ketua RT, yang saya gak habis pikir, penulis skenario itu lagi gak ada ide, atau memang sudah tidak ada bahan ide yang lebih gila lagi dibandingkan itu?.</p>
<p>Benar-benar sinetron kita sudah tidak lagi memberikan greget yang bisa membuat masyarakat kita lebih cerdas lewat tayangan televisi, bagaimana masyarakat kita akan lebih cerdas dan pintar, jika selalu saja diwarnai dengan sinetron yang penuh dengan bumbu intrik, syirik, kekerasan, kekayaan, dan kekonyolan yang tidak masuk akal.</p>
<p>Masih ingat dengan Munajah Cinta yang hampir para ustad kondang ikut angkat bicara ketika sinetron ini ditayangkan?, awalnya saya pikir pencerahan yang baik, ternyata saya simak, ditengah-tengah cerita hingga akhir sinetron ini mulai sinetron ini menjadi SINETRON ALA INDONESIA yang menjadikannya biasa.</p>
<p>So&#8230; bagaimana jika kita mulai membuat film dan sinetron yang lebih bermakna seperti jaman-jaman dulu saya masih duduk di sekolah, seperti sinetron &#8220;SITI NURBAYA&#8221; yang menjadi favorit saya, selain ceritanya yang membawa nilai-nilai kultural yang kental, juga kita mendapatkan beberapa pengetahuan menarik tentang budaya yang ada di negeri ini, dan juga sinetron &#8220;Si Doel Anak Sekolahan&#8221; yang benar-benar bisa merangkul semua lapisan masyarakat dan dekat dengan masyarakat.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=145&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/09/11/sinetron-melupakan-nilai-nilai-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>URBAN or RELIGION???</title>
		<link>http://constantio.web.id/2008/09/10/urban-or-religion/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2008/09/10/urban-or-religion/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 02:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Siapa orang di dunia ini yang tidak menyukai film, Anda pasti juga menyukainya, film merupakan sebuah hiburan yang telah menemani masyarakat dunia dengan jenis dan keragamannya, yang kemudian nama bekennya adalah GENRE, tetapi jenis manakah yang anda sukai? drama, action, fiction, science fiction, fantasy, religion atau bahkan yang lagi banyak digencarkan di dunia perfilman Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa orang di dunia ini yang tidak menyukai film, Anda pasti juga menyukainya, film merupakan sebuah hiburan yang telah menemani masyarakat dunia dengan jenis dan keragamannya, yang kemudian nama bekennya adalah <strong>GENRE</strong>, tetapi jenis manakah yang anda sukai? drama, action, fiction, science fiction, fantasy, religion atau bahkan yang lagi banyak digencarkan di dunia perfilman Indonesia adalah genre <strong>URBAN </strong>dibalik tameng <strong>Comedy?</strong></p>
<p>Saya sangat senang ketika film-film berbau Islam mulai melanda rancah negara Indonesia yang mayoritas Islam, memberikan penyegaran kepada masyarakat yang sudah kering dengan siraman-siraman Islami dari sebuah <strong>LAYAR </strong>besar di bioskop-bioskop, sebut saja <strong><a href="http://www.thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/5219/ayatayat_cinta">Ayat-ayat Cinta </a></strong>sebagai film Islam yang diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia dan juga beberapa belahan negara Asia seperti Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sebenarnya dulu sudah ada film yang digarap oleh Dedi Mizwar, yang kita kenal dengan <strong>Kiamat Sudah Dekat</strong>, tapi gaungnya memang tidak seperti <strong>AAC </strong>yang digandrungi oleh masyarakat kita terlebih anak-anak muda, ada yang suka dengan karakter pemainnya, alur cerita atau bahkan karena ngefans sama pemainnya.<span id="more-143"></span></p>
<p>Dibalik itu film ini juga memiliki kontra versi sendiri, saya beberapa hari yang lalu sempat membahasnya dengan salah satu teman yang sedang berada di Thailand, dia menceritakan keburukan <strong>AAC </strong>dari sudut pandang dia yang menyebutkan <strong>AAC </strong>menjelekkan Islam dari segi TA&#8217;ARUF-nya, tapi mungkin ini akan saya sampaikan dilain kesempatan, lalu bagaimana dengan penerus <strong>AAC </strong>sendiri? seperti biasa Indonesia selalu membuat film yang ber-genre sama jika jenis film itu ada yang pernah sukses sebelumnya, contohnya seperti <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/10556/kun_fayakuun">Kun Fayakun</a></strong>, <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/15432/mengaku_rasul_sesat">Mengaku Rasul, Sesat</a></strong>, yang mencoba mendulang sukses dengan mengambil tema yang sama, walhasil <strong>AAC </strong>tetap menjadi unggulan, ya seperti biasa, film pertama yang sudah sukses, akan sulit diikuti dengan film-film berikutnya yang mengambil tema yang sama kecuali, film tersebut memiliki <em>sequel </em>yang tidak jarang akan melewati kepopuleran film pertamanya.</p>
<p>Indonesia sekarang sedang dijejali dengan tiga jenis film <strong>HORROR </strong>(klasik, karena jenis film ini semakin banyak sejak tahun 2007), <strong>Comedy </strong>dan <strong>Regilion</strong>. Tapi bagaimana dengan film-film komedi yang mengocok perut, apakah masyarakat menyukainya? Ya ini tidak akan diragukan lagi, masyarakat membanjirinya, jika komedinya memiliki makna penting dan bisa memberikan khasanah baru ke perfilman Indonesia mungkin saja bisa diterima, tapi bagaimana dengan film-film <strong>URBAN </strong>yang dibalut dengan tameng Comedy?</p>
<p>Film-film ala metropolitan, dengan lifestyle yang selalu saja dibumbuhi dengan kehidupan &#8220;HARAM&#8221; ditayangkan dengan &#8220;Baik&#8221; dan &#8220;Menghibur&#8221;, tapi tahukah, bahwa tiada batasan bagi siapa saja yang menonton di bioskop kita, sebut saja film <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/6541/extra_large__antara_aku_kau_dan_mak_erot">XL</a></strong>, <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/8170/ml__mau_lagi">ML?, Mau Lagi</a></strong>, <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/7824/drop_out">Drop Out (DO)</a></strong>, dan yang paling baru <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/20654/asoy_geboy">ASOY GEBOY </a></strong>, fenomena film &#8220;Dewasa&#8221; ini bebas di konsumsi oleh anak-anak remaja atau kecil yang belum pantas menontonnya, dan bagaimana film ini menampilkan adegan syur yang membuat para penikmat film jenis ini lebih menantikan film lainnya yang menayangkan hal yang sama. Dan saya mencoba memberikan sedikit fakta tentang sebuah riset yang saya lakukan dengan <a href="http://www.youtube.com">youtube</a>.</p>
<p>Saya mengupload trailer <strong>Asoy Geboy </strong>di hari perdana penayangannya, dan langsung saja sudah puluhan orang melihatnya, berbeda dengan film <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/21211/doa_yang_mengancam">DOA YANG MENGANCAM</a></strong>, salah satu film yang baru kemarin (9 September) rilis, saya mengupload trailernya sehari sebelumnya, dan peminatnya sangat sedikit, padahal pemainnya adalah AMING (<strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2008/10556/kun_fayakuun">Namaku Dick</a></strong>, <strong><a href="http://thebestmoviereview.com/movie/asian_movies/2007/5171/quickie_express">Quickie Express</a></strong>) dan Titi Kamal (<strong>Drop Out</strong>) yang juga pemain film-film comedy dewasa. Padahal kalau dilihat film ini pas sekali di tayangkan di saat-saat bulan Ramadhan ini, walaupun saya tidak setuju dengan Pengancaman kepada Allah jika doa kita tidak dikabulkan, sah-sah saja jika pendidikan agama dan kandungan agama dalam masing-masing individu yang menonton bisa membedakan antara yang benar dan salah, tapi bagaimana jika ilmu agamanya masih cetek, bisa saja jalan &#8220;Pengancaman&#8221; akan dihalalkan dan diharapkan mendapatkan indera ke-enam seperti yang di dapat oleh Aming dalam film tersebut.</p>
<p>Dan memang para penulis, pelakon dan orang-orang perfilman Indonesia sudah cerdas dan mahir dalam membuat film, tetapi tidak untuk mencerdaskan msyarakat lewat film. Bahkan banyak sekali penjerumusan yang dilakukan hingga membuat masyarakat menjadi terbuai dalam dunia film yang dia coba lakoni dalam dunia nyata. Orang-orang dunia perfilman mungkin harus sedikit jeli bagaimana mencoba membuat film yang dapat merangkul masyarakat, mendidik dengan baik, dan memberikan makna yang bisa diambil secara lebih gamblang. OK memang, film-film Indonesia selain cerdas, bermakna juga, setiap film yang saya lihat, makna di dalamnya ada, bahkan film-film urban yang juga memberikan gambaran akibat-akibat apa saja yang terjadi dalam kehidupan ala metropolitan mereka, tapi kembali lagi masyarakat memang telah disuguhi rating film yang baru, tetapi bioskop-bioskop kita belum menetapkan siapa saja yang berhak menontonnya, misal apakah Anda pernah diminta menunjukkan KTP Anda di bioskop? sebagai bukti Anda sudah 18 tahun ke atas?</p>
<p>Fenomena film Urban ini juga terjadi di saya sebagai pengelola salah satu web film di Indonesia, bagaimana orang-orang bertanya bagaimana mereka mendownload gratis film-film fulgar seperti <strong>DO</strong>, <strong>ML</strong>, <strong>XL </strong>dan <strong>ASOY GEBOY </strong>dibandingkan saya tawarkan film <strong>Kun Fayakun</strong>, <strong>AAC</strong>&#8230; <img src='http://constantio.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  jawaban mereka akan beragam, &#8220;Akh gak asik, gak ada x-nya&#8221;, &#8220;Wah jangan mentang-mentang Ramadhan dong, heheheh&#8221;, &#8220;Wah perlu penyegaran mata soalnya.&#8221; HALAH&#8230;</p>
<p>Nah Anda dipihak mana, <strong>URBAN </strong>atau <strong>RELIGION</strong>?</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=143&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2008/09/10/urban-or-religion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya IT dalam dunia Entertainment</title>
		<link>http://constantio.web.id/2007/12/21/pentingnya-it-dalam-dunia-entertainment/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2007/12/21/pentingnya-it-dalam-dunia-entertainment/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 09:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activity]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2010/02/12/pentingnya-it-dalam-dunia-entertainment/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, akhirnya untuk web The Best Movie Review, diakhir tahun ini telah menyelesaikan databasenya selama enam bulan ini, dengan mencari-cari database kesana-kemari, database 3 tahun film serasa masih belum lengkap karena masih ada yang kurang disana-sini, tapi tetap saja ada kepuasan karena database film yang terkumpul sudah ribuan, maunya sampe puluhan ribu, ditambah pernak-perniknya seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, akhirnya untuk web <a href="http://thebestmoviereview.com" target="_blank">The Best Movie Review</a>, diakhir tahun ini telah menyelesaikan databasenya selama enam bulan ini, dengan mencari-cari database kesana-kemari, database 3 tahun film serasa masih belum lengkap karena masih ada yang kurang disana-sini, tapi tetap saja ada kepuasan karena database film yang terkumpul sudah ribuan, maunya sampe puluhan ribu, ditambah pernak-perniknya seperti <strong>poster</strong>, <strong>galleri </strong>dan <strong>wallpaper </strong>yang ternyata terkumpul banyak juga, padahal di dalam komputer saya masih banyak koleksinya.</p>
<p>Beberapa pembaca menginginkan database film bisa dimengerti oleh mereka dengan bahasa Indonesia, hal ini tentu sebagai PR berkelanjutan setelah apa yang telah dibuat, rencananya database ini akan ditranslate ke bahasa Indonesia, dan pembaca bisa memilih bahasa mana yang akan digunakan untuk melalap habis informasi film yang disuguhkan.<span id="more-353"></span></p>
<p>Nah disinilah pentingnya ilmu IT, jika saya tidak memahami lebih tentang IT, mungkin saya akan meraba-raba bagaimana, apa dan seperti apa saya membuat sesuatu hal yang seperti ini, bahkan saya telah membangun web film berbasis blog khusus untuk pemasaran di Indonesia, sebagai bentuk lain kegemaran saya di dunia <strong>Entertainment</strong>, sejak kemarin bergelut dengan acara <a href="http://jiffest.org"><strong>JiFFest</strong>, </a>rasanya saya semakin jatuh cinta dengan dunia ini dan juga dunia <strong>Jurnalistik </strong>yang memang sejak saya duduk di bangku SMA menggemarinya, bahkan pernah terjun sebagai penulis artikel-artikel untuk majalah dinding atau <strong>MADING </strong>menjadi bentuk pelajaran awal tentang dunia yang kini seakan mendarah daging, ya semua dimulai dari kecintaan, dan semua seakan terbuka untuk kita menjelang jalan ke depan untuk arah dan masa depan kita, cita-cita bukan sebagai sekedar cita-cita, kini cita-cita itu seakan mulai teraih dengan aku bergelut di dunia IT.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=353&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2007/12/21/pentingnya-it-dalam-dunia-entertainment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

