<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Constantio Works &#187; Poetry</title>
	<atom:link href="http://constantio.web.id/category/poetry/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://constantio.web.id</link>
	<description>All Work... All Play</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Sep 2011 07:43:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Curahan Hati Sang Pujangga</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/02/10/curahan-hati-sang-pujangga/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/02/10/curahan-hati-sang-pujangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 17:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Pecinta Puisi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pecinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Pujangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2010/02/10/curahan-hati-sang-pujangga/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku menjadi kekasihmu, aku ingin menggenggam tanganmu agar kau tahu aku akan selalu bersamamu, aku ingin membelai rambutmu, kala kau tersenyum memandangku, aku ingin menatap wajahmu dalam tidur, agar kurekam dalam peraduan hatiku, menyematkan wajahmu selalu dalam figura abadiku. Ketika aku memintamu menjadi teman hidupku, aku ingin memelukmu selamanya, berusaha membahagiakanmu, aku ingin menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika aku menjadi kekasihmu, aku ingin menggenggam tanganmu<br />
agar kau tahu aku akan selalu bersamamu, aku ingin membelai rambutmu, kala kau tersenyum memandangku, aku ingin menatap wajahmu dalam tidur, agar kurekam dalam peraduan hatiku, menyematkan wajahmu selalu dalam figura abadiku.</p>
<p>Ketika aku memintamu menjadi teman hidupku, aku ingin memelukmu selamanya, berusaha membahagiakanmu, aku ingin menjadi sandaran jiwamu kala rapuh, dan bawa aku dalam pilumu, karena aku akan membawanya jauh darimu.</p>
<p>Ketika ada amarah diantara kita, aku tak akan berpaling darimu, walau kau memakiku, memarahiku dengan sejuta cacian. Aku akan terus menuntunmu, menjadikanmu apa yang kau mau. Aku akan menjadi pahlawanmu ketika kau terhempas di dunia yang membuatmu tersesat, menjadi penuntunmu dalam gelap, dan memberimu secercah cahaya walaupun kadang itu belum sempurna.<span id="more-265"></span></p>
<p>Ketika aku bersamamu, aku meminta Tuhan menghentikan waktu, karena aku tak ingin berpisah darimu, memohon pada-Nya memberikanmu selalu ada di hidupku, dan ijinkan aku menjadi orang yang selalu disampingmu saat bersama, berada di depan, saat kau takut menghadapi hidup, berada di belakangmu, ketika kau ingin berjuang untuk impianmu.</p>
<p>Ketika hasrat itu datang, aku ingin mengecupmu dalam gairah, berpacu dalam ribuan cinta yang bisa kuberikan, memberi apa yang aku bisa lakukan terbaik untukmu.</p>
<p>Ketika semua orang mengingkan kita berpisah, aku akan berjuang untuk terus bersamamu, tetap ada untuk hari-harimu, dan meyakinkanmu suara-suara itu hanya sebuah iringan lagu tak bermakna. Biarkanlah berlalu, dan kita buat dunia kita yang lain.</p>
<p>Ketika kau tak lagi menginginkanku, aku akan merelakanmu dalam senyuman, karena aku tak ingin membuatmu berat dalam meninggalkanku, hanya sebuah ucapan &#8220;Selamat Tinggal&#8221; untukmu, dan biarkan waktu menghapusku dalam kenanganmu. Walau perih mengisi hari-hariku tanpamu, aku akan tetap melihatmu dari duniaku yang gelap, memberimu doa dalam ribuah harapan hampa. Dan aku tak akan menghalangi langkahmu, memberi semangat ketika kau bersanding dengan yang lain, tersenyum dalam perih, tertawa dalam luka terdalam, menangis bahagia dalam tangisan abadiku.</p>
<p>Kekasih&#8230; Terima Kasih, kau buat duniaku penuh warna, penuh luka, penuh cinta, penuh harapan, dan aku tau makna hidup. Aku tak akan lagi menjadi seorang berpangkat pujangga, tapi aku tahu arti menjadi seorang Pecinta.</p>
<p><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Be a True Lover and find your true love<br />
&#8211;Terinspirasi dari kisah nyata sang pujangga&#8211;</p>
<p>Created by: Constantio<br />
Date: February, 11th 2010<br />
<span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=265&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/02/10/curahan-hati-sang-pujangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Cinta untuk Satu Hati</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/02/02/10-cinta-untuk-satu-hati/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/02/02/10-cinta-untuk-satu-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2010/02/10/10-cinta-untuk-satu-hati/</guid>
		<description><![CDATA[10 tahun yang lalu, aku memintamu menjadi kekasihku, entah karena kekosletan otakku yang parah dalam kekalauan hati, atau hanya sekedar canda yang berbuah manis yang kuberikan, telah membuatmu jatuh cinta kepadaku, hingga kau menerimaku apa adanya. 1 tahun pertama bersamamu, bagaikan panas api yang tak pernah padam, ada rayu, cumbu dan ribuan amarah dalam satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>10 tahun yang lalu, aku memintamu menjadi kekasihku, entah karena kekosletan otakku yang parah dalam kekalauan hati, atau hanya sekedar canda yang berbuah manis yang kuberikan, telah membuatmu jatuh cinta kepadaku, hingga kau menerimaku apa adanya.</p>
<p>1 tahun pertama bersamamu, bagaikan panas api yang tak pernah padam, ada rayu, cumbu dan ribuan amarah dalam satu cerita cinta yang ingin dibina, dan kau lelah hingga aku berjanji akan berubah, dan hatimupun mulai hinggap di satu pintu yang lain, aku bergidik diantara ketakutan, tapi aku melepasmu dengan hati teriris dibungkus senyum terpaksa. Kau bertahan, hingga kita lampaui, tahun kedua,</p>
<p>2 tahun bersamamu, terlalu banyak cinta, hingga tak kuasa menahan semua godaan, dan kita terlalu memahami, bahkan terlalu sempurna untuk bersama, sampai kita tahu, penghalang terbesar adalah keluarga kita sendiri.</p>
<p>3 tahun bersamamu, bagaikan sebuah mimpi, disaat semua terasa begitu sempurna, mencoba membuat semua terasa indah, hingga kisah itu berubah pahit, saat sahabat mulai memecah kita dalam masalah mereka. Kau hilang sesaat, bergumul dengan alasan yang tak pasti, dan aku mulai ragu.<span id="more-264"></span></p>
<p>3.5 tahun bersamamu, aku putuskan untuk mengakhirinya, dan kau menangis dalam hitungan hari, mencoba merayuku kembali. Tak sadarku bahwa kau terlalu menyayangiku, aku buta dengan semua kecemburuanmu, yang membuatku menjauh, atau bahkan cemburuku karena kau selalu bersama sahabat yang seakan ingin merebutmu dariku.</p>
<p>Tahun ke-4, kala aku menuntaskan semua, dan waktu terakhir kita bertemu, aku putuskan untuk memendam cinta dan tak ingin memulainya, hingga aku memintamu kembali kepadaku.</p>
<p>Tahun ke-5, saat aku pergi, melepaskanmu berulang kali, karena egoku, atau sikapmu yang membuat ruang gerakku bergidik tak sanggup. dan aku mencoba hidup, terbiasa tanpamu</p>
<p>Tahun ke-6 dan ke-7, aku luar biasa tak ada cinta untukmu, aku mungkin lupa, atau bahkan aku menemukan cinta baru yang membuatku teramat menangis, cinta yang aku tanam, dan kupendam selama 1 tahun lebih untuk seseorang yang membuatku menjadi manusia berarti, dan aku teringat untuk meminta maaf kepadamu.</p>
<p>Tahun ke-8, aku mencarimu, ada seonggok harapan untuk kembali, tapi aku urungkan dalam gelak tawa, kelakar palsu yang membuatmu ragu.</p>
<p>Tahun ke-9, aku sungguh menjadi manusia paling beku, saat traumaku membuat aku tak sanggup berdiri, dan aku sadar, betapa banyak aku menyakitimu, dan mungkin itu karmaku. Aku mencoba belajar ikhlas dan lebih sabar. Aku berterima kasih untuk pelajaran manismu.</p>
<p>Tahun ke-10, saat setiap hari, wajahmu selalu ada di mimpiku, dan aku tak menyadari Allah mempertemukan kita, dengan nomor-nomor yang seharusnya sudah tak ada lagi diingatanku, sungguh kau membuatku gila, karena memorimu terlalu melekat dalam hidupku.</p>
<p>Kita bertemu, dan seakan seperti tak pernah terjadi apapun, dalam sunyi yang selalu terjadi diantara hubungan kita, tak banyak bicara, hanya seperti isyarat, rasa cinta itu masih terlihat jelas dimatamu, walau benci membungkusnya rapi dalam kilatan cahaya kekesalanmu.<br />
Aku menangis memintamu untuk memaafkanmu, dan kau lupa caranya untuk melupakan pedihmu.<br />
Kau terlalu mencintaiku, hingga takutmu membuatmu tak ingin bersamaku, takut aku akan meninggalkanmu kembali.</p>
<p>Kedua kali aku bertemu denganmu, aku mulai jenuh dengan rutinitas yang kau beri kepadaku, kau merasakan itu, hingga kau menghilang, dan aku tak mencarimu.</p>
<p>Ketiga kali aku bersamamu, kau membuatku mencandu kembali, entah, rasa sayang itu muncul seperti 4 tahun kulewati bersamamu dulu, dan kau berhasil membuatku mencarimu hingga keujung dunia, ketika kau menghilang tanpa jejak.</p>
<p>Lelahku, membuat pertemuan keempat kita hambar, dan kau mencoba meraih semua peduliku, semua sisa-sisa cinta yang mungkin bisa kuberikan, dan kau berhasil memintamu kembali kepadaku. Dalam ragu dan sesak, aku menginginkanmu berjalan bersama melalui hidup ini berdua, hingga maut memisahkan kita, dan kau meminta waktu tanpa batas, dan traumamu sungguh membuatku terkurung dalam penjara bersalah.</p>
<p>10 cinta yang berjalan hanya untuk satu hati yang terluka, dan maafkan aku, karena lelahku untuk meyakinkanmu, dan aku menghilang, dan kembali menjauh, meninggalkanmu. Jangan mencariku, dan jangan ganggu hidupku lagi&#8230;</p>
<p>Sayang&#8230; biarkan cinta ini hanya di dalam peti mati saat aku masih dalam kecintaanku bersama kesendirianku tahun lalu&#8230; dan mencari pangeran terbaikku&#8230;<br />
SUngguh, terima kasih untuk menemani 10 tahun perjalanan hidupku, dengan cintamu yang tak sanggup kubendung, sayangmu yang tak sanggup aku minum, dan kasihmu yang membuatku tenggelam.<br />
Dan pintaku, berhentilah menyayangiku, jika itu akan membuatmu sakit dan membenciku.</p>
<p><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Based from true story&#8230;<br />
Created by: Nofriza aka Constantio<br />
Idea: at the train, February 2th, 2010<br />
Thanks to: BHS for the inspiration<br />
<span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=264&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/02/02/10-cinta-untuk-satu-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Sabtu Pagi</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/01/23/kisah-sabtu-pagi/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/01/23/kisah-sabtu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 17:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2010/02/10/kisah-sabtu-pagi/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang lebih hangat Selain pelukanmu pagi ini Tak ada yang lebih indah Ketika kau merayuku jauh dari aktifitasku&#8230; Tak ada yang lebih unik dari caramu melakukan itu&#8230; Tak ada yang lebih cantik Ketika aku melihatmu tertidur dalam pelukanku&#8230; Tak ada yang menyenangkan dari pagi ini&#8230; Ketika tawamu masih sama seperti dulu Sentuhanmu masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang lebih hangat<br />
Selain pelukanmu pagi ini<br />
Tak ada yang lebih indah<br />
Ketika kau merayuku jauh dari aktifitasku&#8230;</p>
<p>Tak ada yang lebih unik<br />
dari caramu melakukan itu&#8230;<br />
Tak ada yang lebih cantik<br />
Ketika aku melihatmu tertidur dalam pelukanku&#8230;<span id="more-266"></span></p>
<p>Tak ada yang menyenangkan dari pagi ini&#8230;<br />
Ketika tawamu masih sama seperti dulu<br />
Sentuhanmu masih menggoda imanku&#8230;<br />
Dan caramu membuatku hanya terpaku pada duniamu&#8230;</p>
<p>Ada mata yang masih sayu dalam semu<br />
Ada pasrah dalam kecupanmu&#8230;<br />
dan ada anggukan kecil ketika aku bertanya<br />
&#8220;Masihkah kau mencintaiku&#8230;??&#8221;</p>
<p>Teramat cintamu padaku<br />
Hingga kau takut aku meninggalkanmu kembali<br />
Teramat sayangmu padaku<br />
Hingga kau kelu ketika aku memintamu untuk tinggal&#8230;</p>
<p>Saat satu cinta terlabuhkan<br />
Entah kapan cinta itu akan beralih&#8230;<br />
Dan cintamu tetap di pulauku, sayang&#8230;<br />
Tapi aku lupa jalan untuk menyambutmu sejak dulu<br />
Hingga berulang aku pergi dan menyisakan janji&#8230;</p>
<p>Terbiasaku denganmu<br />
Hingga kau seperti kekasihku, sahabatku, kakakku, ayahku&#8230;<br />
dan kau tetap berlaku seperti itu hingga hari ini&#8230;<br />
Untuk 10 tahun yang terjalin, untuk 4 tahun yang dibagi<br />
dan 6 tahun penantianmu&#8230;</p>
<p>Aku jadikan kisah ini&#8230; &#8220;Kisah Sabtu Pagi&#8221; Yang paling indah&#8230;<br />
Karena tanpa kau bicara&#8230;<br />
Kau jadikan aku teristimewa&#8230;<br />
Matamu mengisyaratkan cinta,<br />
Sentuhanmu mengatakan kasih&#8230;<br />
dan kata-kata lembutmu, tersirat sayang&#8230;</p>
<p><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
By: Nofriza aka Constantio&#8230;<br />
Create: January 23th, 2010</p>
<p>Inspired By True Story&#8230;.<br />
DIperuntukkan untuk mereka dan sahabatku yang masih mencintai orang yang pernah mengisi hari-harimu&#8230; tak perlu takut menggenggam, tak perlu takut berbicara, dan takut meminta, hanya takutlah untuk kembali menyakiti mereka&#8230; Karena cinta bisa membuat mereka menunggu begitu lama, dan memperlakukanmu sama seperti tak pernah terjadi benci yang merasuki mereka, karena kau tetap menjadi yang teristimewa, walau tak akan pernah bisa bersama&#8230;<br />
<span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=266&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/01/23/kisah-sabtu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tinggal Sahabat</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/selamat-tinggal-sahabat/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/selamat-tinggal-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/selamat-tinggal-sahabat/</guid>
		<description><![CDATA[Aku menatap lelah ke arah rembulan, bertengger di batang pohon besar itu. Aku menunggumu dalam sepinya malam. Kaupun tiada pernah datang hingga sang mentari menyalami bumi. Biasanya kau akan mencari bintangmu dalam hamparan ribuan bintang, bintang terang itu datang malam tadi, tapi dirimu tak pernah muncul. Akh&#8230; ada apa denganmu, sahabatku&#8230; Tak biasa kau mengingkari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menatap lelah ke arah rembulan, bertengger di batang pohon besar itu. Aku menunggumu dalam sepinya malam.<br />
Kaupun tiada pernah datang hingga sang mentari menyalami bumi.</p>
<p>Biasanya kau akan mencari bintangmu dalam hamparan ribuan bintang, bintang terang itu datang malam tadi, tapi dirimu tak pernah muncul. Akh&#8230; ada apa denganmu, sahabatku&#8230; Tak biasa kau mengingkari janjimu seperti kemarin.<span id="more-251"></span></p>
<p>Mentari menyadarkanku untuk pulang, sebelum sapaan panasnya membuat tubuhku terbakar. Aku mencarimu sebelum siang, dan berita tentangmu datang mengenaskan, kau pergi sahabat? kenapa? kenapa kau meninggalkanku? kenapa semua impian kita harus tertunda disini?</p>
<p>Akh&#8230; tapi apa daya, aku tak bisa menghentikan tangan Tuhan untuk menarikmu kembali. aku tak bisa memarahi Dia karena mengambilmu, sahabat mungkin jika kita tidak saling berjanji untuk melihat bintangmu, mungkin pagi ini aku tidak akan berpakaian duka, berdiri di depan makammu. Aku masih bisa melihat tatapanmu yang lembut, dan tawamu yang hangat.</p>
<p>Akh&#8230; sahabat&#8230; bilalah Tuhan mengijinkan kita bertemu terakhir kali, aku akan menghabiskan waktu bersamamu seindah mungkin, hingga akan terkenang selamanya&#8230;</p>
<p>Selamat tinggal sahabat&#8230;.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=251&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/selamat-tinggal-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk 10 Tahun Rasa Cintaku&#8230;</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/untuk-10-tahun-rasa-cintaku/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/untuk-10-tahun-rasa-cintaku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/untuk-10-tahun-rasa-cintaku/</guid>
		<description><![CDATA[10 tahun waktu yang panjang untuk sebuah cinta tak berbalas, 10 tahun adalah waktu yang tak pernah buatku lelah untuk menyayangimu dan 10 tahun adalah waktu dimana aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Angka 10 merupakan angka sempurna dan aku menyempurnakannya dengan menanggalkan semua cinta itu di dalam box kenanganku, apakah ini awal dari sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>10 tahun waktu yang panjang untuk sebuah cinta tak berbalas, 10 tahun adalah waktu yang tak pernah buatku lelah untuk menyayangimu dan 10 tahun adalah waktu dimana aku tak akan pernah bisa melupakanmu.<br />
Angka 10 merupakan angka sempurna dan aku menyempurnakannya dengan menanggalkan semua cinta itu di dalam box kenanganku, apakah ini awal dari sebuah perjalanan cintaku yang baru ataukah hanya sebuah keinginan sesaat? Aku tak bisa menjawabnya, walaupun aku masih menginginkan figura wajahmu tetap di hatiku, selamanya.<br />
Tetapi tahun 1996 merupakan tahun yang tak akan pernah kulupakan, tahun dimana aku mengenalmu pertama kali, merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, dan kamulah yang mengajarkan aku caranya mencintai pertama kali, walaupun hatimu pun tertutup untukku, dari 10 tahun lalu, dari saat aku mengungkapkan rasaku, hingga saat ini, dan selamanya.<span id="more-250"></span></p>
<p>Dan aku masih mengingat bisuku ketika kau tanyakan mengapa aku mencintaimu, dan ketololanku untuk mencintaimu adalah sebuah kebiasaan yang membuatku merasa utuh, setiap didirimu walau tak pernah aku melihatmu lagi, aku tetap bisa menyayangimu dengan utuh.<br />
Apakah kini saatnya aku lelah untuk setia mencintaimu? dan adakah salah jika aku menutup buku sakral ini?, taukah kau buku ini penuh dengan uraian tangisku mengenangmu, mimpi-mimpiku yang hanya indah untuk segumpal asa yang tak bisa kugenggam.<br />
Adakah aku kini harus mendengarkan mereka?, berhenti mencintaimu dan mencari cinta sejatiku?, ataukah aku harus berpeluh dalam tangisku sendiri, uraian khayal hampa dalam setiap detik kehidupanku.<br />
Sudah 10 kali aku mencari penggantimu, dan aku hanya membuat rangkaian kecewa pada mereka, dan aku lelah untuk berkelana, adakah disana aku menemukanmu kembali ataukah Tuhan berbaik hati mengirimku pengganti dirimu.</p>
<p>Aku akan menanti walau untuk selamanya, aku akan setia untuk menunggu cinta sejatiku, untuk pangeran penunggang kuda putihku yang kucari.<br />
Dan untuk 10 tahun cintaku padamu, aku lengkapkan rasa ini dengan menutupnya selamanya, dan rasa sayang itu masih ada walaupun cinta itu kinipun mulai kujauhkan dari otak kecilku yang tak pernah berhenti memikirkanmu, mengulang dan mengurai detik demi detik kenangan bersamamu, jalan cerita hidupmu yang kulihat dengan sejuta cinta hanya untukmu.<br />
Aku pun mengurainya dalam lirik lagu yang pernah ku urai untuk sebuah lelah yang kini muncul dan menyadarkanku bahwa kaupun &#8220;BUKAN UNTUKKU&#8221;</p>
<p>Dan Kaupun akan menjadi kenangan terindah untukku, karena sejak pertama aku bertemu denganmu, aku menyadari bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata, cinta itu memang indah, dan cinta itu dapat membuatku mendapatkan berjuta rasa yang tak akan kulupakan, dan &#8220;KAU TAK AKAN TERGANTI&#8221;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=250&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/untuk-10-tahun-rasa-cintaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah yang lebih baik?</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/adakah-yang-lebih-baik/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/adakah-yang-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/adakah-yang-lebih-baik/</guid>
		<description><![CDATA[Liku hidupku masih berkemelut Bersama hempasan badai yang beriring Entah, kenapa kau harus datang kembali Membawa cinta yang seharusnya hilang Aku termangu menatapmu Matamu nanar membawa tatapan sama Ribuan uraian kasih masih terhampar luas Tapi redupku semakin gelap Diantara cinta dan persahabatan kita Jika kau kembali saat ini Aku tak bisa rangkaikan kata cinta tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Liku hidupku masih berkemelut<br />
Bersama hempasan badai yang beriring<br />
Entah, kenapa kau harus datang kembali<br />
Membawa cinta yang seharusnya hilang</p>
<p>Aku termangu menatapmu<br />
Matamu nanar membawa tatapan sama<br />
Ribuan uraian kasih masih terhampar luas<br />
Tapi redupku semakin gelap<br />
Diantara cinta dan persahabatan kita</p>
<p>Jika kau kembali saat ini<br />
Aku tak bisa rangkaikan kata cinta<br />
tak kuasa memintal harap untuk kasih buta<br />
Yang tersisa hanya sebuah persahabatan,<br />
Seperti dulu&#8230; mungkin sedikit dengan kadar yang kurang</p>
<p>Tanyaku pada dunia<br />
dan lirikku padamu saat hempasan gelombang itu menyela<br />
Adakah yang lebih baik?<br />
Adakah jawaban yang lebih pantas?</p>
<p>Jika aku memelukmu kala kau pulang<br />
Aku memelukmu dengan kehangatan seorang teman<br />
Aku menatapmu dengan ketulusan seorang sahabat<br />
Dan sayang&#8230;.<br />
Aku hanya menyayangimu tak lebih dari itu<br />
Tak bisa seperti yang kau mau&#8230;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=249&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/adakah-yang-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku mencintaimu&#8230; Sahabat (III)</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-iii/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Aku dihujami rindu tak terkira sakit sekali di dada ini serasa aku ingin mengakhiri hidupku jika tiada kau disini Aku rindu setiap tawamu Kecupan bibirmu di keningku dan sentuhanmu diseluruh hidupku biarkan jejakmu menghiasi tubuh yang menginginkanmu Aku menatapmu dari kejauhan mencoba merekam suaramu yang membuatku bergairah melirik setiap gerak tubuhmu yang membuatku ingin mendekapmu&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dihujami rindu tak terkira<br />
sakit sekali di dada ini<br />
serasa aku ingin mengakhiri hidupku<br />
jika tiada kau disini</p>
<p>Aku rindu setiap tawamu<br />
Kecupan bibirmu di keningku<br />
dan sentuhanmu diseluruh hidupku<br />
biarkan jejakmu menghiasi tubuh yang menginginkanmu<span id="more-248"></span></p>
<p>Aku menatapmu dari kejauhan<br />
mencoba merekam suaramu yang membuatku bergairah<br />
melirik setiap gerak tubuhmu<br />
yang membuatku ingin mendekapmu&#8230; selamanya</p>
<p>Setiap didirimu membuatku menggilaimu<br />
memujamu hingga tak ada kata yang tersisa<br />
tetapi semuanya itu tiada akan terulang<br />
atau lebih manis dari pertama<br />
dan itu hanyalah pertama dan yang terakhir</p>
<p>Ketika jampun berhenti<br />
kau membuat aku pergi ke nirwana terindah<br />
ketika otakku tak berfungsi<br />
kau membuat aku tersanjung<br />
ketika kau bisikkan kata cinta</p>
<p>Hari itu hari pengakuan kita<br />
dan hari itu hari terakhir kita bersama<br />
kini hanya kesombongan kita yang tertinggal<br />
malu menyatakan kepada dunia<br />
bahwa kita saling JATUH CINTA</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=248&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjanjilah untuk terus hidup&#8230; Mama&#8230;</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/berjanjilah-untuk-terus-hidup-mama/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/berjanjilah-untuk-terus-hidup-mama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/berjanjilah-untuk-terus-hidup-mama/</guid>
		<description><![CDATA[Amarahku memuncak&#8230; aku gelap mata Mama&#8230; aku bukan membencimu Mama&#8230; aku hanya ingin bebas dalam deretan aturan, doktrin-doktrin lama yang berhasil membuat otakku berhenti bekerja Aku berlari dari pintu yang kuanggap penjara mungkin benteng besar ini hanya kenangan saja Aku menatapmu dengan enggan Dalam sayu matamu&#8230; aku tahu kau masih menghakimiku Duniaku berbeda gerak bumi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amarahku memuncak&#8230; aku gelap mata<br />
Mama&#8230; aku bukan membencimu<br />
Mama&#8230; aku hanya ingin bebas<br />
dalam deretan aturan, doktrin-doktrin lama<br />
yang berhasil membuat otakku berhenti bekerja</p>
<p>Aku berlari dari pintu yang kuanggap penjara<br />
mungkin benteng besar ini hanya kenangan saja<br />
Aku menatapmu dengan enggan<br />
Dalam sayu matamu&#8230;<br />
aku tahu kau masih menghakimiku<span id="more-247"></span></p>
<p>Duniaku berbeda<br />
gerak bumi sudah berada ribuan mil<br />
di depan duniamu dulu<br />
dan aku ingin terbang<br />
bersama mimpi-mimpi yang kau hujat</p>
<p>Akh&#8230; entahlah<br />
Kadang aku masih begitu menginginkanmu mengerti<br />
Aku hendak membawamu mengerti aku<br />
Tapi aku pun takut kehilanganmu</p>
<p>Sosok yang kukenal sejak dulu<br />
sejak aku hanya bisa menjadi bebanmu<br />
dan kini aku tak ingin membebanimu<br />
biar aku pilih takdirku sendiri</p>
<p>Berjalan dalam padang gersang<br />
tanpa air darimu<br />
Berjalan dalam bebatuan terjal<br />
tanpa tanganmu</p>
<p>Biar aku meniti hidupku&#8230; Mama&#8230;<br />
Sekali ini&#8230;<br />
dan aku akan kembali<br />
membawa kabar bahwa mimpiku telah kuraih<br />
dan membahagiakanmu sampai akhir hidupmu</p>
<p>Berjanjilah untuk terus hidup&#8230; Mama&#8230;</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=247&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/berjanjilah-untuk-terus-hidup-mama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku mencintaimu&#8230; Sahabat (II)</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-ii/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Aku menelponmu pagi itu entah bayanganmu memecahkan dinding esku entah kenapa hanya kau yang bisa membuatku sadar aku bisa mencintai lagi Aku terpaku mendengarkan suaramu yang dingin tak biasa&#8230; tak seperti dulu mungkin memang tak harus terjadi mungkin seharusnya aku tak perlu menanyakan perasaanmu&#8230; Merasakannya aku sudah cukup tahu ada getar berbeda dari kecupanmu sentuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menelponmu pagi itu<br />
entah bayanganmu memecahkan dinding esku<br />
entah kenapa hanya kau yang bisa membuatku sadar<br />
aku bisa mencintai lagi</p>
<p>Aku terpaku mendengarkan suaramu yang dingin<br />
tak biasa&#8230; tak seperti dulu<br />
mungkin memang tak harus terjadi<br />
mungkin seharusnya aku tak perlu menanyakan perasaanmu&#8230;<span id="more-246"></span></p>
<p>Merasakannya aku sudah cukup tahu<br />
ada getar berbeda dari kecupanmu<br />
sentuhan hangat yang memporak-porandakan<br />
istana es anti cintaku&#8230;.</p>
<p>Aku tertegun lama<br />
kala kesombonganku menghilang dan mengucap lagi<br />
saat kau bertanya apa yang kurasakan<br />
Aku berbisik dan mengaku<br />
Aku Mencintaimu</p>
<p>Keheninganmu membuatku gila<br />
dan kau hanya bergumam kecil<br />
Kita sahabat&#8230;. seperti dulu&#8230;<br />
Tapi aku juga mencintaimu<br />
Melebihi rasa cintamu padaku&#8230;.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=246&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku mencintaimu&#8230; Sahabat</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 14:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat/</guid>
		<description><![CDATA[Jauhku bergumul dengan awan pekat hitam&#8230;. tak jelas akan rembulan yang mengintip ingin menyimak kejadian bumi langkahku gontai semakin melunglai Fikirku dalam angan tak jelas mencoba menterjemahkan kejadian tadi kala kau menjamuku dengan mesra diluar kebiasaan kita sebagai sahabat Adakah aturan main yang lain disana? bumbu manis apa yang ingin kau perlihatkan? dari semua sentuhanmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jauhku bergumul dengan awan pekat<br />
hitam&#8230;. tak jelas akan rembulan yang mengintip<br />
ingin menyimak kejadian bumi<br />
langkahku gontai semakin melunglai</p>
<p>Fikirku dalam angan tak jelas<br />
mencoba menterjemahkan kejadian tadi<br />
kala kau menjamuku dengan mesra<br />
diluar kebiasaan kita sebagai sahabat<span id="more-245"></span></p>
<p>Adakah aturan main yang lain disana?<br />
bumbu manis apa yang ingin kau perlihatkan?<br />
dari semua sentuhanmu tadi&#8230;.<br />
rasa cintakah atau sekedar nafsu belaka?</p>
<p>Aku memarahi kebodohanku sendiri<br />
terlarut dalam kenikmatan yang kumaki saat ini&#8230;.<br />
Kami sahabat&#8230; pantaskah itu?<br />
Terlalu&#8230;.</p>
<p>Tapi ada gerak yang ingin meminta lagi<br />
sentuhanmu membuat tubuhku menangih&#8230;<br />
mungkin kau memperlakukanku begitu istimewa<br />
diantara kelembutan dan perasaanmu yang tak pernah kau akui&#8230;</p>
<p>Apakah masih ada persahabatan disana?<br />
kala kita memperlakukan semuanya dengan cara lain<br />
cara yang seharusnya tidak dilakukan seorang sahabat<br />
dan bibirku kini hanya bisa terdiam&#8230;</p>
<p>Bila saja aku tak menangis saat itu<br />
mungkin kita sudah lebih jauh<br />
Bila saja tak ada rangkaian kata maaf darimu<br />
mungkin kita sudah tidak dibumi lagi<br />
berpijak pada keyakinan yang kita tinggalkan sesaat<br />
berdansa dengan para iblis yang tertawa&#8230;</p>
<p>Aku menyayangimu sahabat&#8230;<br />
seperti dulu&#8230;<br />
Aku juga menyukaimu sahabat&#8230;<br />
seperti dulu&#8230;</p>
<p>Dan aku tak ingin ini berakhir tanpa sebuah kata<br />
akan kemana persahabatan ini dibawa<br />
ketika kau diam bersama pertanyaanku<br />
dan pengakuan tulusku&#8230;.<br />
Bahwa aku juga mencintaimu&#8230;.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=245&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/12/18/aku-mencintaimu-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

