Kembali saya bertualang dengan kamera SLR Canon, mempertajam keahlian, menjadikan hobby sebagai bentuk pekerjaan, professionalitas. Terkadang tantangan bagi fotografer wanita adalah rekan-rekan sesama fotografer wanita yang lebih banyak mencibir atau dengan “SADIS” mencaci maki hasil foto fotografer lainnya, tanpa memberikan solusi untuk lebih baik lagi, hal ini pun sering terjadi pada saya, tentu saya tidak berdiam diri, selain terus mengasah, sayapun mengasah mereka agar lebih cerdas dalam mengkritisi hasil karya orang lain, seperti yang biasa saya ungkapkan kepada anak-anak kritikus film ataupun yang lain “Kritiklah dengan cerdas, setidaknya orang akan tahu kamu itu cerdas,” Semoga Anda pun bisa menerapkannya di kehidupan Anda masing-masing.
Mengenai soal professionalitas, saya mencoba menerapkannya di acara-acara pemotretan, tanpa memandang objek foto saya, tanpa kenal waktu yang mungkin saat itu saya juga tidak memiliki tenaga ataupun mood yang bagus untuk berpotret-potret ria. Objek model yang saya potret kebanyakan adalah wanita, menyebabkan orang memiliki persepsi yang tidak-tidak, tetapi inilah resiko, jika kita tak bisa mengambil resiko itu sebagai dinamika, menjadikan kita terpuruk dengan aturan orang lain, tapi di otak saya selalu terset, “Apapun yang menurut saya baik, saya tidak peduli dengan pendapat orang lain, karena saya bisa berargumen dan bertanggung jawab dengan keputusan yang saya ambil.” Read the rest of this entry »
Popularity: 97% [?]