<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Constantio Works &#187; Stories</title>
	<atom:link href="http://constantio.web.id/category/stories/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://constantio.web.id</link>
	<description>All Work... All Play</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Sep 2011 07:43:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Harga Mahal Untuk Sebuah Vocal</title>
		<link>http://constantio.web.id/2011/02/22/harga-mahal-untuk-sebuah-vocal/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2011/02/22/harga-mahal-untuk-sebuah-vocal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 01:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Menurut orang bicara terlalu vokal bisa berbahaya, betul adanya, tetapi ada kalanya, bicara lantang untuk membuka mereka untuk lebih baik. Mungkin masih ingat dengan artikel saya terdahulu untuk kadar kepintaran, ini merupakan sebuah kisah nyata yang saya sadur dalam sebuah tulisan. Yang terjadi sebenarnya adalah pernyataan berbeda dari sang petinggi tentang anak buahnya yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/02/vocalist.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-438" title="vocalist" src="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/02/vocalist.jpg" alt="" width="300" height="273" /></a>Menurut orang bicara terlalu vokal bisa berbahaya, betul adanya, tetapi ada kalanya, bicara lantang untuk membuka mereka untuk lebih baik. Mungkin masih ingat dengan artikel saya terdahulu untuk <a href="http://constantio.web.id/2011/02/04/pintar-dalam-surat-atau-pintar-dalam-nyata/" target="_blank">kadar kepintaran</a>, ini merupakan sebuah kisah nyata yang saya sadur dalam sebuah tulisan.</p>
<p>Yang terjadi sebenarnya adalah pernyataan berbeda dari sang petinggi tentang anak buahnya yang tidak mampu bekerja sesuai dengan harapan, padahal memiliki tingkat pendidikan yang cukup menjanjikan, pada kenyataannya, ada sebuah kebohongan yang akhirnya diungkapkan oleh saya. Harganya? Mahal sekali&#8230;..<span id="more-437"></span></p>
<p>Tentu saja, seperti perang dingin yang dimulai dengan pencitraan klise yang bulshit, seperti setan yang ketauan belangnya, mencoba menyingkirkan angel-angel kebenaran, hem klise kan layaknya film hollywood yang kontroversial, tetapi kenyataan yang memang ada di depan kita, setiap saat.</p>
<p>&#8220;Kau berani berbicara, berarti berani mengambil resiko&#8221;, betul kata-kata ini, tapi berapa banyak orang yang berani untuk mendapatkan kata-kata &#8220;kebenaran&#8221; yang akhirnya menguak topeng palsu mereka, entah malu atau bahkan mereka takut, menjadikan orang-orang vocal itu diusahakan untuk berhenti bernyanyi&#8230; Yah, hentikan nyanyian mereka, lalu lanjutkan kejahatan Anda, ini juga di berikan contoh oleh petinggi-petinggi kita, so jangan salahkan kalau bos-bos kita juga menganut ajaran ini. Yeah&#8230;</p>
<p>Ternyata kita masih bukan negara merdeka, mereka masih picik dengan omongan palsu dan berani bicara &#8220;demokrasi&#8221;, tetapi berupaya membungkam demokrasi ketika tahta dipermalukan. Siapa yang memalukan disini, sang penyanyi atau penonton yang sedang dinyanyikan? itu terserah pikiran Anda masing-masing.</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=437&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2011/02/22/harga-mahal-untuk-sebuah-vocal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pintar dalam Surat, atau Pintar dalam Nyata?</title>
		<link>http://constantio.web.id/2011/02/04/pintar-dalam-surat-atau-pintar-dalam-nyata/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2011/02/04/pintar-dalam-surat-atau-pintar-dalam-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 19:25:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Tolak ukur seseorang dalam perekrutan karyawan, selalu melihat tidak jauh dari surat kelengkapan yang ada, atau bisa di bilang dalam paket CV, Sertifikat, Ijazah dan lain-lain, yang tentunya bisa ditilik sampai dimana kemampuannya. Hal klasik dimana seorang pemimpin perusahaan menginginkan karyawannya berada dalam posisi yang optimal di lihat dari semua kelengkapannya, dan itu juga yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/02/college.jpg"><img class="size-full wp-image-435 alignright" title="College" src="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/02/college.jpg" alt="" width="183" height="275" /></a>Tolak ukur seseorang dalam perekrutan karyawan, selalu melihat tidak jauh dari surat kelengkapan yang ada, atau bisa di bilang dalam paket CV, Sertifikat, Ijazah dan lain-lain, yang tentunya bisa ditilik sampai dimana kemampuannya. Hal klasik dimana seorang pemimpin perusahaan menginginkan karyawannya berada dalam posisi yang optimal di lihat dari semua kelengkapannya, dan itu juga yang menjadi ukuran standar gaji.</p>
<ol>
<li>Lulusan S2 pasti lebih tinggi gajinya dengan orang lulusan S1, D3 (make sense).</li>
<li>Nilai IPK tinggi dengan angka fantastik atau bisa di bilang KUMLOT.</li>
<li>Pendidikan Luar Negeri menjanjikan angka nol dibelakang slip gaji lebih besar.</li>
<li>Portfolio dan projek yang banyak.</li>
</ol>
<p><span id="more-434"></span>Tapi menurut saya ini cuma sebagai tolak ukur yang seharusnya dijabarkan menjadi:</p>
<ol>
<li>Lulusan S2 yang tentunya murni di dapatkan secara halal, atau bahkan dengan beasiswa adalah nilai utama dalam mengantongi bahwa orang tersebut pintar.</li>
<li>Nilai IPK tentu adalah angka valid, tetapi juga harus dilihat di Universitas / Institut mana dia lulus. Kumlot di BSI tentu tidak bisa disamakan dengan kumlot di UI</li>
<li>Seperti yang diutarakan di posisi 1, jika pendidikan ini di dapatkan karena potensi yang benar atau penghargaan, tentu menjadi sebuah nilai plus. Tapi perlu diingat pendidikan luar negeri itu belum tentu lebih dari lulusan dalam negeri.</li>
<li>Portfolio yang menarik dan tentunya bernilai merupakan nilai plus juga.</li>
<li>Tentunya kemampuan, dan bagaimana solusi dalam mengatasi masalah.</li>
</ol>
<p>Beberapa point penjabaran ini mungkin bisa dikatakan dilupakan oleh perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan baru. Mereka melihat dari paket kertas CV yang membuat terkagum-kagum, bahkan mereka nantinya akan menangis dan menyesal mengetahui <strong>point 5</strong> mereka lupakan karena pesona CV yang sempurna. Apakah mereka tidak melihat dengan sikap yang lebih objektif dan memikirkan karyawan lain yang mungkin tidak memiliki point (1), (2), dan (3) menjadi <strong>&#8220;Karyawan Recehan&#8221;</strong>? karena pemimpin mereka begitu membanggakan orang baru yang belum tentu dapat dilihat secara optimal hasilnya?</p>
<p>Disini professionalisme seorang pimpinan dinilai oleh karyawannya, pantas dijadikan panutan atau pantas dijadikan sebuah tontonan yang cukup menggunakan kacamata pembajak ala &#8220;Pirates&#8221;?? Keadilan tentu harus dijunjung tinggi melihat dari porsi pekerjaan, bukan standar paket surat emas. Yang dibutuhkan adalah karyawan dengan potensi emas, bukan karyawan yang di banggakan dengan surat emasnya.</p>
<p>Prilaku yang seperti ini akan membuat karyawan lain akan kecewa, sedih dan merasa disisihkan, padahal mungkin porsi pekerjaan mereka sama atau bahkan lebih, tapi harus merasa tersudut karena tidak memiliki kelebihan pada point-point emas tadi. Ironis, dan inilah pola yang tak mudah di ubah, &#8220;We Believe With Gold Paper&#8221; merupakan mind set yang sudah ditanamkan hingga masuk ke akar-akar otak, yang tentunya jadi tak mudah di hapuskan.</p>
<p>Pemimpin yang baik, seharusnya melihat secara global, melihat porsi keadilan, menilai dengan hasil nyata, baru menyatakan &#8220;We Believe With Gold Paper&#8221;!!!</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=434&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2011/02/04/pintar-dalam-surat-atau-pintar-dalam-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin &#8220;Wanna Be&#8221; VS. Anak Kecil</title>
		<link>http://constantio.web.id/2011/01/18/pemimpin-wanna-be-vs-anak-kecil/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2011/01/18/pemimpin-wanna-be-vs-anak-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 20:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Pemimpin &#8220;Wanna Be&#8221; yang ingin menggulingkan penguasa lainnya, berkoar-koar di siang hari layaknya pahlawan, berceramah dibalik agama, membawa ayat-ayat untuk menggulingkan pemerintahan. Lalu seorang anak menyimak dengan seksama, berfikir, apa orang yang didepannya ini layak menjadi pemimpin? Kemudian dia berhayal, ke dalam ruang ilusi yang sungguh aneh&#8230; Jika Mr. Wanna Be ini jadi pemimpin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/01/auliyasad2upload.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="Kids" src="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2011/01/auliyasad2upload-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Seorang Pemimpin &#8220;Wanna Be&#8221; yang ingin menggulingkan penguasa lainnya, berkoar-koar di siang hari layaknya pahlawan, berceramah dibalik agama, membawa ayat-ayat untuk menggulingkan pemerintahan. Lalu seorang anak menyimak dengan seksama, berfikir, apa orang yang didepannya ini layak menjadi pemimpin?</p>
<p>Kemudian dia berhayal, ke dalam ruang ilusi yang sungguh aneh&#8230;</p>
<p>Jika Mr. Wanna Be ini jadi pemimpin, pasti menghujat terus kerjanya, mentrinya salah dimarahi, dicaci, ajudannya salah mungkin akan di penggal, dia bergidik sendiri, lalu bagaimana kalau dia salah, apakah dia akan disidang oleh PWB itu, dimasukkan kedalam penjara karena memberikan orasi balasan?, lalu dia teringat dengan kata-kata ibunya.</p>
<p><em>&#8220;Orang yang suka mencaci, paling tidak suka dicaci&#8221;<span id="more-429"></span><br />
</em></p>
<p>Anak kecil itu melirik lagi kearah PWB itu. Menyiritkan kening, dan mencatat, dibukunya dengan tabel plus dan minus, dia menambahkan satu baris di kolom minus: <strong>&#8220;PWB suka mencaci&#8221;</strong></p>
<p>Kemudian dia mulai masuk kedalam nalarnya yang seharusnya belum sampai, seorang yang terus mencari kesalahan orang lain, pastilah orang yang tidak suka orang lain lebih baik darinya, diapun menambahkan poin minus kembali: &#8220;PWB sirikan&#8221;.</p>
<p>Ayah anak tersebut melirik ke catatan anaknya, kemudian bertanya, &#8220;Apa maksud catatanmu nak?&#8221;<br />
&#8220;Saya hanya ingin memberi nilai PWB saja ayah, pantaskah dia jadi pemimpin?,&#8221; Ayahnya terdiam, lalu mendengarkan lagi orasi PWB dengan seksama, ada hal yang ingin ia tanyakan kepada anaknya, tapi lebih bijak dia membiarkan anaknya mencatat sesukanya.</p>
<blockquote><p>Anak itu melirik sebuah foto yang besar dengan tulisan merah besar disampingnya, dia tentu bisa membaca tulisan besar penuh kemarahan itu, <strong>&#8220;TURUN!!&#8221;</strong></p></blockquote>
<p>PWB menginginkan pemimpin lain turun, dengan mengumbar semua kesalahan pemimpin sebelumnya, bukan menjadi bahan koreksian, tetapi menyebarkan aib, dia memberikan catatan lagi minus karena <strong>&#8220;PWB suka nyebar aib orang.&#8221;</strong></p>
<p>Kalau dipikir catatannya berputar-putar, tetapi karena anak kecil dia suka memberikan nilai-nilai dan ingin catatannya penuh, kemudian kembali dia menyelami wajah PWB, Minus karena tidak ganteng dan berwibawa dari yang sebelumnya, Ayahnya melirik lalu tersenyum dengan tawa tertahan.</p>
<p>&#8220;Kamu tidak memberikan nilai plus pada kolom ini?,&#8221; Kakak anak itu menunjuk kearah sebelah tabelnya yang kosong.<br />
&#8220;Nanti, saya kan dapet ilmu dari PWB&#8221;<br />
&#8220;Ilmu apa?&#8221;<br />
&#8220;Mencatat kesalahan dan kekurangan orang dulu ka, baru kelebihannya,&#8221; Kakaknya menggeleng, dan dia paham maksud adiknya, itu benar, dan nyata, lelaki dihadapannya yang berkoar layaknya malaikat hanya bisa melihat sisi buruknya dari pemerintahan yang ada, tapi lupa memberikan contoh kelebihan dari rivalnya.<br />
&#8220;Seharusnya kamu tambahkan lagi di kolom minus dek!&#8221;<br />
&#8220;Apa?&#8221; Adiknya menahan bolpoitnya dan mengigitinya lucu<br />
&#8220;Minus karena <strong>PWB memberikan contoh yang tidak baik</strong>&#8221;<br />
&#8220;Oh iya,&#8221; buru-buru dia mencatatnya.</p>
<p>Dia mendengarkan PWB memberikan wejangan lewat hadist, lalu dia bertanya kepada kakaknya, &#8221;Kenapa dia bawa-bawa itu kak?&#8221;<br />
&#8220;Untuk meyakinkan pendapat dia dek&#8221;<br />
&#8220;Lebih tepatnya menarik simpatik, atau biar orang setuju dengan pendapat dia,&#8221; Timpal ayahnya.<br />
&#8220;Tapi itu bawa agama kita kan?&#8221; Anak itu bersungut kesal<br />
&#8220;Iya, memangnya kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Kok dia gitu?, seharusnya ketika dia menghina orang lain, agama jangan dibawa-bawa&#8221; Ayah dan kakaknya menatap binggung, kini beberapa orang mulai tertarik mendengarkan celoteh anak tersebut.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Hadist itu memberikan informasi kebenaran kan?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8221; Jawab ayahnya penuh tanya.<br />
&#8220;Tapi dia kan sedang mencerca orang, itu jahat,&#8221; Kakaknya tersenyum, &#8220;Dia berlindung di balik agama,&#8221; Timpal ayahnya.<br />
&#8220;Iya betul tuh!!&#8221; Anak itu manggut-manggut mengerti.<br />
&#8220;Biar terlihat suci,&#8221; kini seorang bapak menimpali, dan mengeret kursinya agar lebih dekat dengan anak tersebut.</p>
<p>&#8220;Ingin menambahkan point minusnya?&#8221; Kakaknya tersenyum bangga.<br />
&#8220;Iya dong&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Minus untuk apa kali ini?&#8221;<br />
&#8220;Minus karena P<strong>WB pengecut membawa agama untuk kepentingan sendiri</strong>&#8221;</p>
<p>&#8220;Cerdas!!!&#8221; kini seorang ibu membuat tiga rentetan bangku disebelahnya tak lagi menyimak apa yang dibawakan PWB<br />
&#8220;Plusnya apa?&#8221; Tanya ibu tersebut, anak itu berfikir<br />
&#8220;Plusnya kita diundang makan bu, dikasih duit setelah kita mendengarkan,&#8221; Kini semua tertunduk. Plus untuk sebuah nilai minus.<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Plus karena ada benarnya kata-kata dia dibeberapa tempat.&#8221;<br />
&#8220;Contohnya?&#8221;<br />
&#8220;Dia bilang pemimpin itu berbohong!&#8221;<br />
&#8220;Menurut kamu begitu?&#8221;<br />
&#8220;Yah banyak masalah yang terjadi tetapi tidak&#8230;&#8221; Anak itu diam sesaat, &#8220;Belum sebenarnya, belum selesai&#8221;<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Kita tak pernah jadi kaya,&#8221; Kini kakaknya tertawa.<br />
&#8220;Adik, ingat kata Bunda kan?&#8221;<br />
&#8220;Apa?&#8221; Anak itu menggaruk-garukkan kepalanya, kini banyak orang mulai menggeret kursi, memenuhi sudut belakang. Orasi tak lagi nikmat untuk dicerna.<br />
&#8220;Setidaknya lebih baik kita tidak kaya dan juga tidak miskin, tetapi cukup,&#8221; Kakaknya yang cantik berjilbab, mengelus kepala adiknya.<br />
&#8220;Jadikanlah diri kita kaya dengan iman, dan kayakan pundi amal kita untuk bekal kita pulang,&#8221; Imbuh ayahnya.<br />
&#8220;Iya, ibu pernah bilang begitu&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah, apakah agama tak boleh dicampur adukkan kedalam masalah seperti ini?&#8221;<br />
&#8220;Boleh, tetapi bukan menjadi pelengkap dari setiap keadaan, dia harus menjadi pedoman untuk setiap kejadian, agar tetap berada dijalurnya, dan tidak keluar dari nilai agama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak ini, anak bapak?&#8221;<br />
&#8220;Benar bu,&#8221; kini seorang ibu yang duduk dipaling ujung sudah berada disamping bapak anak itu, dia pun kembali kearah tempatnya duduk, dan menggeretnya. Kini PWB melihat ada sesuatu yang janggal. Mereka makin banyak berkelompok di belakang. Dan dia berharap mereka memberikan nilai positif atas orasinya, PWB tersenyum penuh percaya diri lalu kembali berapi-api. Dia mencaci lebih hebat, menghujat lebih parah lagi.</p>
<p>&#8220;Ayah, apa maksud Allah kepada Nabi Musa soal Fir&#8217;aun?&#8221; Anak itu dengan cuek merapihkan ujung celananya yang tersingkap.<br />
&#8220;Yang mana?&#8221;</p>
<blockquote><p><strong>“Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah.” -At Thaha: 44</strong></p></blockquote>
<p>&#8220;Maksudnya agar kita selalu mengingatkan orang bahkan untuk seorang sekejam Fir&#8217;aun pun harus menggunakan kata-kata yang halus.&#8221; Ibu yang baru datang tadi langsung menjawab, ayahnya menggangguk membenarkan. Ibu tersebut, tiba-tiba mencoretkan beberapa hal di catatannya.</p>
<p>Anak itu diam, kemudian tersenyum dan kemudian tertawa. &#8221;Loh kenapa dek?&#8221; Tanya kakaknya.<br />
&#8220;Lucu kak,&#8221;<br />
&#8220;Kok lucu, kamu menertawakan firman Allah?&#8221;<br />
&#8220;Tidak,&#8221;<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Saya tertawa melihat dia!&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; Tanya bapak-bapak lainnya serempak.<br />
&#8220;Karena dia seperti pahlawan tanpa busana&#8221;<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221;<br />
&#8220;Iya, dia menggunakan agama untuk menjatuhkan, tetapi dia lupa ada perintah yang membuatnya malu,&#8221;<br />
&#8220;Dia Menelanjangi dirinya sendiri&#8230;&#8221; Seru ibu itu cepat, matanya kini berbinar. Anak itu menyiritkan kening tanda tak mengerti. Ayahnya hanya mengelus kepala anaknya.</p>
<p>&#8220;Sekarang ayah tanya boleh?&#8221; Ayahnya merapatkan tubuhnya keanak lelaki bungsunya itu, Anak itu mengangguk, dan tak lupa menambahkan catatan lagi. &#8220;Kamu tak memberikan catatan pada pemerintahan yang sekarang?&#8221;<br />
&#8220;Sudah,&#8221; Jawab anak itu cepat.<br />
&#8220;Benarkah?, Boleh dibacakan?&#8221; Anak itu langsung menggangguk.<br />
&#8220;Nilai minusnya: pemerintah kaya keong&#8221;<br />
&#8220;kenapa? lambat maksudnya?&#8221; Tanya kakaknya diiringi senyum orang-orang<br />
&#8220;Iya,&#8221;<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Belum!!&#8221; Tahan anak itu.<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221; Serempak orang-orang bertanya, menatap lekat anak itu.<br />
&#8220;Jalannya kaya Keong karena rumahnya berat,&#8221; Ibu itu langsung mengerti.<br />
&#8220;Tapi apakah lebih bagus rumahnya diberikan ke pak PWB aja?&#8221;<br />
&#8220;Belum saatnya!!&#8221;<br />
&#8220;Kenapa??&#8221;<br />
&#8220;Rumah berat ini kan semakin hari harus di kurangi bebannya, kalau cuma satu yang berjuang kan susah Ayah.&#8221; Kini semuanya paham.<br />
&#8220;Iya benar,&#8221;<br />
&#8220;Jika semua orang hanya melihat, sibuk berorasi seperti itu, tetapi tidak ikut membantu, susah kita keluar dari masalah.&#8221; Ayahnya melihat pak PWB dengan lemah.</p>
<blockquote><p>&#8220;Tak akan bangkit sebuah negara, jika pemimpinnya zolim dan rakyatnya sibuk mencerca.&#8221; Tandas seorang lelaki muda dengan cepat.</p></blockquote>
<p>&#8220;Betul!!&#8221;<br />
&#8220;Lalu nilai minusnya apa lagi dek?&#8221;<br />
&#8220;Dia pelihara binatang paling ditakuti&#8221;<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221;<br />
&#8220;Teman-temannya tukang makananin orang.&#8221;<br />
&#8220;Dan makanin uang rakyat,&#8221; Imbuh lelaki muda tadi cepat.<br />
&#8220;Kenapa kamu bilang orang-orang itu binatang?&#8221;<br />
&#8220;Cuma kata hiasan saja,&#8221; Sahutnya sambil terkekeh,<br />
&#8220;Dapat dari mana kata itu?&#8221;<br />
&#8220;Dari ibu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Lalu apa maksudnya tadi?&#8221; Tanya ibu itu cepat, tanpa perduli, anak itu bersiap memberikan jawaban detailnya.<br />
&#8220;Soalnya mereka itu suka dengan mensengsarakan orang lain sampai-sampai orangnya mati.&#8221; Mereka diam.<br />
&#8220;Kamu tau kenapa dia melakukan itu?&#8221;<br />
&#8220;Maksud ayah?&#8221;<br />
&#8220;Maksud ayah, apakah kamu tau kenapa pemimpin kita mau bersama mereka?&#8221;<br />
&#8220;Mungkin biar mereka tidak merajalela?&#8221;<br />
&#8220;Bukannya malah lebih parah?&#8221;<br />
&#8220;Saya tidak tahu?&#8221; anak itu mengangkat bahunya, lalu dia mulai berujar.<br />
&#8220;Kalau bersama pemimpin, orang itu disibukkan untuk mengurusi pekerjaan dengan rakyat, jadi zolimnya bisa lebih kecil, tanggung jawabnya besar kepada pemimpin?&#8221; Ibu itu langsung bertanya sama anak tersebut.<br />
&#8220;Mungkin!&#8221; Anak itu kemudian meremas jarinya, &#8220;Lebih tau tentang rakyat, biar tahu caranya mencari muka kepada kita.&#8221; Imbuhnya.<br />
&#8220;Jadi otomatis dia berbuat baik?&#8221; Kakaknya melongo.<br />
&#8220;Mungkin!&#8221; Jawabnya enteng. &#8220;Adik tidak tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ok lalu apa lagi?&#8221;<br />
&#8220;Dia lupa liat kebawah!&#8221;<br />
&#8220;Iya semua pemimpin begitu!!!&#8221;<br />
&#8220;Tapi dia juga bukan Tuhan!&#8221; Seru anak itu cepat.<br />
&#8220;Kenapa begitu?&#8221;<br />
&#8220;Kalau Tuhan, semua bisa dibenahi sendiri, tapi kalau dia tidak bisa, dia tak bisa lihat ke bawah mungkin karena dihalangi untuk melihat kebawah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Briliant!!&#8221; Semua orang terperanjat kaget, ini tak terfikirkan oleh mereka, pemimpin selalu berada diatas, dengan seluruh ajudan dan petinggi-petinggi yang menyibukkan dia, sampai dia terlihat lupa.<br />
&#8220;Aku pikir dia bukan lupa,&#8221; Anak itu senyum<br />
&#8220;Lalu apa kalau bukan lupa?&#8221;<br />
&#8220;Karena dia bukan Tuhan, ayah!&#8221;<br />
&#8220;Ya Allah&#8230; kita juga bukan Tuhan, kita meminta pemimpin kita layaknya Tuhan.&#8221;<br />
&#8220;Dia juga bisa salah,&#8221; Kini orang mulai berargumen, memancing orang lebih banyak lagi berada disekitar mereka.</p>
<p>Kakaknya melihat catatan adiknya, &#8221;Point plusnya?&#8221;<br />
&#8220;Hem, pertama dia berwibawa.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Karena orang yang tidak berwibawa akan dipermalukan diluar negeri.&#8221;<br />
&#8220;Benar!!, pencitraan yang sukses.&#8221; Timpal ibu itu sambil terus mencatat.<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Dia bolehin aku sekolah gratis, kakak juga,&#8221; Kakaknya tersenyum.<br />
&#8220;Ibu sekarang gajinya gedean ya kak, dulu gaji ibu kata ayah kecil banget kan sebagai guru,&#8221; Ayahnya kini mengecup kening anaknya, bahkan dia bisa paham tentang itu.<br />
&#8220;Dia kasih orang uang, walaupun tetangga kita yang kaya juga dapat ya kak?&#8221; Anak itu kini bersuara lemah.<br />
&#8220;Ya tapi dia bukan Tuhan dek.&#8221;<br />
&#8220;Dia punya piaraan yang jahat-jahat ya kak!!&#8221;<br />
&#8220;Ya bisa dikatakan begitu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Dia ajarkan orang mandiri!&#8221;<br />
&#8220;Mandi sendiri?&#8221; Kakaknya menjawab seasalnya. Adiknya merengut. &#8220;Ok, ok, kakak salah, lalu artinya apa?&#8221;<br />
&#8220;Dia mau semua orang bekerja tanpa harus dia memberi tahu.&#8221;<br />
&#8220;Intervensi langsung dan mandat yang ditahan,&#8221; Ayahnya melongok melihat seorang kameramen kini tidak lagi merekam PWB, dia ternyata asik merekam pembicaraan mereka.<br />
&#8220;Yah, tapi kalau anak kecil kaya aku wajar yah kalau tidak mengerti.&#8221;<br />
&#8220;Benar,&#8221;<br />
&#8220;Tapi mereka kan sudah besar, masa gak tau dimana toilet!!&#8221; Semua binggung. Anak itu tertawa.<br />
&#8220;Begini, kata ibu kalau kita bekerja itu sama saja kita ke sawah, kalau membuang masalah itu sama saja ke toilet.&#8221; Kakaknya kini tertawa, dia ingat kata-kata itu dulu.<br />
&#8220;Yah, pemimpin kita lupa cara kencing di toilet, sampai harus anak kecil yang memberitahukan bagaimana mereka harus membuangnya ke toilet!&#8221; Kameramen itu bergumam dan terdengar di dalam rekamannya.<br />
&#8220;Mungkin mereka tahunya jamban ya kak??&#8221; Kini semua tertawa dengan hebat, anak itu binggung tapi langsung cuek saja.</p>
<p>&#8220;Apa kamu nantinya mau jadi pemimpin adik kecil?&#8221; Teman kameramen itu kini berjongkok dihadapan anak kecil itu, anak kecil itu menggeleng, &#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Gak enak kakak, lebih baik saya nonton doraemon dirumah.&#8221; Kini semua makin tertawa keras. PWB langsung menuju kearah mereka, merasa acaranya rusak oleh ulah mereka.</p>
<p>&#8220;Wah sepertinya ada yang seru neh?&#8221; Anak itu tetap bermain dengan buku dan bolpointnya, lalu melihat PWB dan tersenyum sebentar.<br />
&#8220;Ada apa ini?&#8221;<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa!&#8221; seru mereka secara bersama-sama.<br />
&#8220;Bagaimana menurut kalian, benarkan kata saya?&#8221; Senyum bijak PWB mengembang penuh harapan balasan indah.<br />
&#8220;Ada benarnya&#8221; Seru beberapa orang<br />
&#8220;Ada juga salahnya&#8221;, Tambah beberapa orang lainnya.<br />
&#8220;Maksud anda-anda ini?&#8221; PWB melihat ke arah semua orang disekelilingnya.</p>
<p>&#8220;Saya akan kirimkan video rekaman saya ke bapak, karena ini live mungkin bapak bisa melihat siaran ulangannya nanti pak,&#8221; kameramen itu menyuruh rekannya memberi informasi.<br />
&#8220;Kami tidak akan membahas banyak pak, siaran kami&#8230;&#8221; Dia sempat terhenti, &#8220;&#8230;mungkin akan berbeda dengan yang lainnya, saya harap bapak bisa mengerti kebebesan pers kami.&#8221;<br />
&#8220;Oh tentu saja&#8221; Seru PWB bangga, bahwa dia paham soal kebebasan pers.<br />
&#8220;Syukurlah kalau begitu,&#8221; Seru teman kameramen yang kini menshoot PWB.</p>
<p>&#8220;Oh ya pak, bisa diulang pernyataan bapak tadi dengan ringkas tentunya,&#8221; Seru lelaki berpakaian seragam saluran televisi itu.<br />
&#8220;Oh tentu, tentu, jadi&#8230;&#8221; bla&#8230; bla&#8230; bla&#8230; dengan berapi-api PWB memberikan orasi, bahkan lebih semangat. Tiba-tiba setelah PWB selesai, kameramen itu mengarahkan moncong kameranya kearah anak tersebut.<br />
&#8220;Gimana menurut adik?&#8221; Anak itu maju mendekati PWB yang tersenyum kelewat ramah dan dibuat-buat.</p>
<p>&#8220;Bapak, haji ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya!&#8221; Jawabnya lantang.<br />
&#8220;Kok bapak suka menghujat orang?&#8221; PWB terdiam<br />
&#8220;Saya bukan menghujat, tapi saya mengingatkan!&#8221;<br />
&#8220;Allah berfirman, di surat At Thaha, ayat 44: Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah.” Anak itu memiringkan wajahnya beberapa kali, melihat reaksi bapak itu, &#8221;Apa sewaktu bapak pergi ke haji, tidak baca surat itu?&#8221; PWB gelagapan, lalu dia memberikan alibi.</p>
<p>&#8220;Gaya bicara saya memang begitu, berapi-api, penuh semangat!&#8221; Kameramen tersenyum dengan kemenangan telak ini.<br />
&#8220;Bapak perlu saya tunjukkan toilet atau jamban?&#8221; Semua orang kini tertawa hebat, terpingkal bahkan ada yang terjatuh, tetapi ayah anak itu kemudian mengambil anaknya, dengan senyum, dia berkata.</p>
<p>&#8220;Maafkan anak saya, dia masih lugu, semoga bapak tidak marah,&#8221; Dengan ragu PWB menatap semua orang, beberapa ada yang sudah meninggalkan ruangan.<br />
&#8220;Oh tidak apa-apa&#8221;<br />
&#8220;Kalau begitu, kami permisi, sukses untuk bapak!&#8221; Ayah anak itu mengandeng anaknya.<br />
&#8220;Semoga Allah memberikan Anda petunjuk pak,&#8221; Anak itu melepaskan tangan Ayahnya, menjabat PWB ramah. &#8220;Kalau bapak mau, bapak bisa belajar ilmu agama dengan ibu saya, kebetulan dia mengajar agama,&#8221; Kini ayahnya benar-benar ingin tertawa, tapi ditahan, dan takut anaknya mendapatkan masalah. Dia dengan cepat menyambarnya, kemudian, mengucapkan maaf sekali lagi.</p>
<p>Siaran live itu membuka mata masyarakat, tetapi ada juga yang tidak, tentu kebebasan ini harus dihargai, tetapi bukan untuk menjadi media cacian. Setidaknya banyak yang bisa dipetik dari cerita ini. Saya hanya bercerita, dalam dongeng dunia dengan kacamata negara&#8230; semoga kita bijak melihat segala sesuatunya&#8230;</p>
<p>&#8220;Anda perlu kami tunjukkan dimana toilet lagi setelah membaca ini?&#8221; Semoga tidak, Anda pun bisa lebih cerdas dari anak tadi.</p>
<p>Salam</p>
<p>Penulis: Nofriza aka Constantio<br />
Tanggal: 18 January 2010<br />
Cerita: Ngarang Bebas</p>
<p>Cerita ini boleh dishare kepada orang lain, asalkan diberikan informasi sumbernya. Terima Kasih</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=429&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2011/01/18/pemimpin-wanna-be-vs-anak-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahakarya RCTI yang Kacau</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/08/21/mahakarya-rcti-yang-kacau/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/08/21/mahakarya-rcti-yang-kacau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 15:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya selamat ulang tahun untuk RCTI yang 21, tapi ini merupakan program ulang tahun terburuk yang ada tahun ini. Untuk tata panggung dan lighting emang bagus tapi untuk tata suara dan penyanyinya terlihat banyak yang kacau, lupa lirik dan itu &#8220;SUNGGUH MEMALUKAN&#8221;, seperti terlihat sangat terburu-buru dalam acaranya di awal, dan agak mulai memanas ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya selamat ulang tahun untuk RCTI yang 21, tapi ini merupakan program ulang tahun terburuk yang ada tahun ini. Untuk tata panggung dan lighting emang bagus tapi untuk tata suara dan penyanyinya terlihat banyak yang kacau, lupa lirik dan itu &#8220;SUNGGUH MEMALUKAN&#8221;, seperti terlihat sangat terburu-buru dalam acaranya di awal, dan agak mulai memanas ketika di tengah-tengah acara, tetapi tetap saja suara artis yang menyanyi terkadang tertinggal masuk.</p>
<p>Hmmm&#8230; Mahakarya, sebutan Maha sepertinya terlalu &#8220;Show Off&#8221; untuk kalangan kita, Maha itu adalah sebutan untuk pencipta manusia, tapi seakan di halalkan dalam acara ini. Mungkin benar adanya untuk beberapa kalangan, tetapi tidak juga untuk yang tidak. Tetapi untuk sebutan Maha, pastinya ada kesempurnaan didalamnya, ini lebih bisa dikatakan, tidak sempurna, ya seperti manusia yang tidak sempurna&#8230; dan bukan &#8220;Maha&#8221;.<span id="more-419"></span></p>
<p>Saya rindu dengan ide RCTI yang membawakan drama musikal dalam acaranya, kini sentuhannya seakan hilang, hanya mengandalkan glamoritas dan banyaknya pendukung, tetapi tidak semua memberikan kontribusi yang optimal, kolaborasi seharusnya ada keseragaman, pembagian yang adil dan juga sebuah kekompakan.</p>
<p>Saya mungkin hanya salah satu penonton di televisi, yang tidak tahu keadaan real di panggung, mungkin di panggung memang tata suara optimal, tetapi penerimaan masyarakat yang menonton akan tidak menyenangkan, karena hanya beberapa persen penonton yang menonton live, selebihnya duduk manis di depan televisinya masing-masing, menantikan penyanyi andalannya tampil di acara ini.</p>
<p>Hope RCTI bisa mereview acaranya hari ini, better than last year? kayanya gak deh <img src='http://constantio.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=419&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/08/21/mahakarya-rcti-yang-kacau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apresiasi yang Tertinggal</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 19:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Negara Indonesia memiliki banyak pemuda pemudi yang membanggakan, tapi biasanya mereka jarang terlihat, atau bahkan tidak di lirik sama sekali, apresiasi bahkan datang dari luar, sehingga banyak pemuda pemudi Indonesia berjuang di negeri orang, atau bahkan say &#8220;Goodbye&#8221; dengan menjadi warga negara asing. Hal ini juga tergambar dengan sebuah pengalaman yang saya lakukan dulu, ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Negara Indonesia memiliki banyak pemuda pemudi yang membanggakan, tapi biasanya mereka jarang terlihat, atau bahkan tidak di lirik sama sekali, apresiasi bahkan datang dari luar, sehingga banyak pemuda pemudi Indonesia berjuang di negeri orang, atau bahkan say &#8220;Goodbye&#8221; dengan menjadi warga negara asing.</p>
<p>Hal ini juga tergambar dengan sebuah pengalaman yang saya lakukan dulu, ketika saya membuat sebuah situs film, dengan sebuah keisengan untuk menyalurkan hobby, tapi kewalahan sendiri karena &#8220;Ternyata konten film itu BUANYAK ya?&#8221; hehehe, setelah mendapat pamor bagus, dan bertengger di TOP 1 Google.com dalam waktu 4 bulan, untuk kategori &#8220;Best Movie&#8221;, menyebabkan orang lebih percaya itu adalah hasil karya orang Amerika.<img title="More..." src="http://www.kompasiana.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><img title="More..." src="http://constantio.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-411"></span></p>
<p>Menyedihkan, saya membiarkan hal ini terjadi dari saat peluncurannya Juli 2007 hingga saya nyatakan website tersebut adalah hasil karya anak bangsa, dengan menyelipkan banner menyongsong ultah RI ke-63 pada tahun 2008.</p>
<div>
<dl id="attachment_233521">
<dt><a href="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/banner_tbmr_mpd.gif"><img src="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/banner_tbmr_mpd.gif" alt="Banner TBMR untuk Dirgahayu Indonesia" width="386" height="50" /></a></dt>
<dd>Banner TBMR untuk Dirgahayu Indonesia</dd>
</dl>
</div>
<p>Tapi lagi-lagi saya mendapatkan sebuah kenyataan, bahwa negeri ini banyak sekali orang yang sedikit memiliki rasa apresiasi pada hasil karya bangsanya. Ada yang bilang saya membual ketika saya mengucapkan Dirgahayu RI ketika broadcast ke YM dengan menyertakan linknya. Dan rata-rata yang memberikan apresiasi malah sahabat-sahabat perjuangan di <a title="Ilmu Komputer" href="http://www.ilmukomputer.com" target="_blank">Ilmu Komputer</a>, praktisi IT, dan teman-teman di luar negeri.</p>
<p>Ketika kesimbukan menjadikan saya tidak memberikan kontribusi banyak pada situs ini, menjadikannya hilang dan tidak dikenal lagi, tapi jangan salah, walaupun begitu, sejak september 2009 fakum, TBMR muncul dengan sebuah versi blog yang lebih familiar dan tentunya diharapkan lebih baik (walaupun saya masih menyatakan engine yang saya buat lebih simple) di <a title="The Best Movie Review's Blog" href="http://blog.thebestmoviereview.com" target="_blank">blog.thebestmoviereview.com</a>, walaupun saya harus kerja bakti kembali, memasukkan data dari ulang, karena kedua website ini dari engine yang berbeda, versi asli menggunakan framework film yang saya buat sendiri dan versi baru dengan menggunakan <a title="wordpress" href="http://www.wordpress.org" target="_blank">wordpress</a>.</p>
<p>Apakah ada apresiasi membanggakan, sudah dikatakan lumayan, walaupun ada juga yang mencibir &#8220;Yakin ini buatan lo?&#8221;, &#8220;Emang lo bisa buat kaya gini?&#8221;, &#8220;Ini buatan luar kan?&#8221;. Tapi I&#8217;m Still Proud with my work and to be Indonesian, ketika salah satu komentar seorang kolega dari India bertanya &#8220;I still love the old version, can&#8217;t wait to see it online again&#8221;. Kobaran api seakan menyala untuk kembali menatanya, dan juga membuatnya online lagi dengan bangga di dunia maya. Mungkin karya saya cuma secuil atau tak berguna di mata Anda bahkan Indonesia, tapi saya bangga ketika karya saya mengatasnamakan Indonesia di dalamnya, di kenal di manca negara.</p>
<p>Hidup Indonesiaku. Dirgahayu ke-65, MERDEKA!</p>
</div>
</div>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=411&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/08/20/apresiasi-yang-tertinggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni dan sebuah &#8220;Aku&#8221;</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/07/08/seni-dan-sebuah-aku/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/07/08/seni-dan-sebuah-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 05:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activity]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup bagaikan sebuah revolusi, evolusi, dan metamorfosis&#8230; Seni dan sebuah &#8220;Aku&#8221; merupakan sebuah kenyataan perjalanan yang ingin kutuliskan berdasarkan untuk mengingatkan aku tentang Who am i??. SENI LUKIS Pergerakan seni dimulai dari lukisan yang menggoret mulai dari Taman Kanak-Kanak, goresan tegas dengan garis-garis tegak lurus membuat aku terlangkahkan pada makna &#8220;Lukis Arsitektural&#8221; ketika lukisanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan hidup bagaikan sebuah revolusi, evolusi, dan metamorfosis&#8230;</p>
<p><strong>Seni dan sebuah &#8220;Aku&#8221;</strong> merupakan sebuah kenyataan perjalanan yang ingin kutuliskan berdasarkan untuk mengingatkan aku tentang <em>Who am i??</em>.</p>
<p><strong>SENI LUKIS</strong></p>
<p>Pergerakan seni dimulai dari lukisan yang menggoret mulai dari Taman Kanak-Kanak, goresan tegas dengan garis-garis tegak lurus membuat aku terlangkahkan pada makna &#8220;Lukis Arsitektural&#8221; ketika lukisanku mirip dengan sebuah meja sederhana yang terekam oleh pensil-pensil warnaku. Sering melihat pola adalah kebiasaanku dari kecil, dengan seorang ayah yang selalu menyuarakan seni dari design-design jaitannya yang indah. garis-garis tegas dalam setiap rajutannya, dan setiap gambarnya membuat aku menjadi orang yang paling boros dalam menggunakan media kertas.<span id="more-381"></span><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMIK DAN ILUSTRASI</strong></p>
<p>Pergerakan kembali menjelajah ketika aku mulai mencitai design-design dengan garis-garis lengkung, memainkan warna dan corak, bahkan mulai menciptakan karakter-karakter manusia di dalamnya, berevolusi ke dalam komik dan tertuang dalam media &#8220;Majalah Dinding&#8221; Sekolah, hingga ilustasiku masuk di salah satu novel &#8220;Lorong Tersembunyi&#8221;.</p>
<p><strong>WEBSITE DAN ANIMASI</strong></p>
<p><strong> </strong>Ketika duniaku beralih ke lingkungan kampus yang penuh dengan pembelajaran teknologi, seniku bermain bebas kedalam website dan design asal. Seiring berjalannya waktu semua berevolusi dalam rangkaian animasi flash yang ku masukan unsur komik, arsitektural, dan gerak visual. Hingga animasiku bergerak bebas untuk mencerdaskan bangsa ini di projek Departemen Pendidikan Nasional.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30849977&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=407118864583&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=407118864583&amp;id=1607956673"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs438.snc3/25214_1328343941165_1607956673_30849977_2392873_a.jpg" alt="" width="180" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sample Puisi dalam Design</p></div>
<p><strong>PUISI</strong></p>
<p><strong> </strong>Bersamaan dengan itu arah seniku berbarengan dengan seni tulisku, dari darah padang yang selalu bersentuhan dengan <strong>Pantun</strong>, akupun mulai mencintai seni puisi, bermain dengan kata-kata, mengapresiasikannya pula dalam cerpen dan novel yang hingga kini belum terpublikasikan. Citaku semoga novelku bisa rilis pure dengan sentuhanku.</p>
<p>Keinginanku untuk membuat ikatan tentang puisi di Indonesia terwujud indah dengan munculnya <a href="puisi-mania.com" target="_blank">Komunitas Pecinta Puisi Indonesia</a> atau yang dikenal dengan PUISI MANIA.</p>
<p><strong>SENI IT</strong></p>
<p>Dan aku harus mengakui ketika metamorfose di dalam lingkungan pemerintahan bukan lagi mengandalkan sebuah kenimaktan seni, tetapi kehandalan sebuah sistem di dalam website, hingga permainan seni visualku mulai mandek, dan aku menganggap ini adalah metamorfose baru saat aku di hadapkan untuk berimajinasi membentuk aplikasi yang handal, menganalisa dan membangun aku anggap seperti layaknya aku melukis sebuah bagunan maya dalam bidang maya pula.</p>
<p><strong>FILM</strong></p>
<p>Pembelajaranku ini semakin tertuang dengan aplikasi-aplikasi yang aku kombinasikan dengan dunia seni pula ketika aku membuat sebuah portal film di <a href="http://www.thebestmoviereview.com" target="_blank">The Best Movie Review</a> yang kini berdandan kembali dengan portal yang lebih baik lagi, layaknya seperti AOL, YAHOO, COMING SOON, website ini menceritakan dengan lebih universal, global, merambah kesemua dunia perfilman dunia, merangkul visualisasi cerita dan budaya 5 benua.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=31110504&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=407118864583&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=407118864583&amp;id=1607956673"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs042.snc4/34484_1440777471933_1607956673_31110504_1402383_a.jpg" alt="" width="180" height="265" /></a><p class="wp-caption-text">Sample Fotografi</p></div>
<p><strong>FOTOGRAFI</strong></p>
<p>Kecintaanku pada fotografi ketika aku mulai memiliki kamera sederhana saat SMA, memang lebih kepada foto-foto tidak jelas dan tak penting, karena rol film habis untuk foto manusia yang kuambil secara asal. Hal ini tak kuperhatikan hingga mataku mulai suka dengan hal-hal yang diluar kebiasaan, mataku termasuk pemilih dalam objek, agak luar biasa dalam mengatakan komposisi dan anglenya. Hingga aku diperkenalkan dunia fotografi yang bagiku tak terbayangkan sebelumnya. Dunia ini membuatku bereksplorasi semakin gila. Menggila, hingga aku dihadapkan dengan &#8220;RULE-RULE&#8221; yang entah dari mana.</p>
<p>Aturan baku pengambilan gambar, dsb membuatku terhenyak, melihat kenyataan aku tak pernah berfikir sampai sana, yang ku tahu hanya metering foto sudah benar, komposisi dan caraku memandang objek sudah bagus menurutku sendiri, dan mungkin orang akan beranggapan sama denganku dengan hasil &#8220;ASAL JEPRET&#8221;. Aku mulai mengikuti aturannya, tetapi yang kudapatkan hanya ketidaknyamanan dan aku mulai kembali ke koridorku&#8230; &#8220;Asal Jepret!!&#8221;</p>
<p>Permainanku mengedepankan originalitas sebuah foto, permainan olah foto malah membuatku binggung, &#8220;Apa yang harus kulakukan untuk foto ini?&#8221;</p>
<p>Yang ku tahu hanya design sebuah website, bermain dengan visualisasi animasi, bukan olahan sebuah foto. Photoshop mulai kupakai ketika tuntutan ini semakin diperlukan, padahal Fatwa Haram Photoshop harus kucabut dari laptopku karena aku tak pernah bisa menggunakannya. Kini Photoshop kembali harus mati suri karena aku masih lebih mencintai Fireworks yang memiliki kinerja sederhana dengan hasil sesuai keinginanku. Di otakku, nilai seni adalah kebebasan dari seorang seniman, layaknya puisi, seni tulis ini mulai banyak keluar dari koridornya, bebas hingga tiada batas aturan verbal, tertulis hingga bersuara lebih dinamis dan beragam.</p>
<p>Dan indahnya seni adalah membiarkan seni itu tergambarkan bebas dari urat-urat seni yang ada di dalam tubuh masing-masing individu, seni itu egoisitas manusia, manusia memandang seni dengan mata yang berbeda, selera yang berbeda, dan manusia dapat dinilai dari mereka dalam menyikapi sebuah karya seni&#8230;</p>
<p>Seniku adalah arah dariku memandang hidup, menceritakan hidup, memvisualisasikan imajinasi, menuliskan kehasratan dan seniku adalah sebuah kebebasan tentang <strong>AKU</strong>!!</p>
<p>Cerita ini untuk mereka yang mencintai seni&#8230;<br />
Untuk semua sahabat yang membantuku dalam pergerakan seniku, terima kasih:</p>
<p>Alm Ayahku yang mengajarkan indahnya garis-garis lurus dalam gambar untuk mulainya nilai seni lukisku, mengajarkan untuk mencintai manusia dari pergerakan mereka terekam dalam media kertas<br />
Ibuku tercinta yang telah mengajarkanku kata-kata penuh puisi untuk nilai seni puisiku<br />
Ifan untuk selalu menyokongku dalam dunia komik dan dunia ilustrasi<br />
Romi Satria Wahono yang mengajarkanku berseni dalam dunia IT<br />
Ikha untuk memperkenalkanku pada dunia fotografi<br />
Dan semua yang mengajarkanku seni dalam hidup</p>
<p>Sekali lagi&#8230; Terima kasih untuk perkenalannya dan perjalanannya..<br />
Dan aku akan terus berevolusi, bermetamorfosis ke dunia yang semakin berseni dimataku&#8230;.</p>
<p>Story by me</p>
<p>Nofriza Nindiyasari<br />
Website IT: <a href="http://www.constantio.web.id" target="_blank">Constantio</a><br />
Puisi: <a href="http://www.puisi-mania.com" target="_blank">KPPI</a><br />
Fotografi: <a href="http://n2.n2-photography.com" target="_blank">N2 Photography</a></p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=381&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/07/08/seni-dan-sebuah-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Logo Baru Shoping Yuk!</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/02/16/logo-baru-shoping-yuk/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/02/16/logo-baru-shoping-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 04:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design Graphic]]></category>
		<category><![CDATA[Portfolio]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah brand atau merek dagang itu perlu, dan begitu juga dengan logo yang mencerminkan dari brand tersebut, sehingga dapat mencirikan ke khasan dari brand tersebut, kali ini, dengan sebuah inovasi yang diluar dari sebuah kebiasaan saya yang berbau tomboy, harus membuat logo dengan konsep girly, dan berbau pink, merah, dan ungu. Tetapi itulah istimewanya, sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://www.shopingyuk.com"><img title="Logo Shoping Yuk!" src="http://www.shopingyuk.com/images/logo-shoping-yuk.jpg" alt="Logo Shoping Yuk!" width="320" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Logo Shoping Yuk!</p></div>
<p>Sebuah brand atau merek dagang itu perlu, dan begitu juga dengan logo yang mencerminkan dari brand tersebut, sehingga dapat mencirikan ke khasan dari brand tersebut, kali ini, dengan sebuah inovasi yang diluar dari sebuah kebiasaan saya yang berbau tomboy, harus membuat logo dengan konsep girly, dan berbau pink, merah, dan ungu.</p>
<p>Tetapi itulah istimewanya, sebuah karya harus tetap di kembangkan, sudah lama tidak bermain di design, kali ini sungguh menjadi tantangan baru dan menyenangkan. Nah kali ini saya tidak membuat dengan Photoshop cukup dengan Macromedia Fireworks hingga dapat menjadinkannya seperti ini</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=366&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/02/16/logo-baru-shoping-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembenahan Blog Lama</title>
		<link>http://constantio.web.id/2010/02/12/pembenahan-blog-lama/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2010/02/12/pembenahan-blog-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 09:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini dipenuhi dengan pemberesan semua dokumen, bukan hanya yang terjadi dalam pekerjaan, tetapi juga dengan blog-blog yang sudah jablay, alias jarang disentuh lagi oleh saya, atau bahkan bisa dibilang tidak sama sekali, tetapi yang paling penting adalah bagaimana saya masih terus mengembangkan diri dalam dunia IT, fotografi, puisi, sastra dan kini merambah ke dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini dipenuhi dengan pemberesan semua dokumen, bukan hanya yang terjadi dalam pekerjaan, tetapi juga dengan blog-blog yang sudah jablay, alias jarang disentuh lagi oleh saya, atau bahkan bisa dibilang tidak sama sekali, tetapi yang paling penting adalah bagaimana saya masih terus mengembangkan diri dalam dunia IT, fotografi, puisi, sastra dan kini merambah ke dunia bisnis online, yang pastinya saya mengharapkan dukungan dari keluarga, rekan dan sahabat, juga para pembaca setia blog saya.</p>
<p>Kesibukan yang dilakukan di PGN (Perusahaan Gas Negara) dari bulan september lalu, hingga ditutup dengan launchingnya website aplikasi KM (Knowledge Management) awal februari lalu, menyebabkan saya konsentrasi penuh, dan blog-blog saya luput dari pengawasan, update-an dan bahkan informasi baru.<span id="more-342"></span></p>
<p>But jangan kecewa ya, pastinya dinantikan terus update tentang tutorial online yang akan saya sampaikan di dalam website ini untuk membantu rekan-rekan yang ada di dunia IT maupun ingin terjun di dunia IT. Bagi teman-teman atau pengunjung yang tertarik dengan prodak yang saya jual di website ini, silahkan langsung order saja <img src='http://constantio.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=342&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2010/02/12/pembenahan-blog-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>All Work, All Play&#8230;</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/10/12/all-work-all-play/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/10/12/all-work-all-play/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 01:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Application]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[Document Management System]]></category>
		<category><![CDATA[Knowledge Management]]></category>
		<category><![CDATA[PGN]]></category>
		<category><![CDATA[Programmer]]></category>
		<category><![CDATA[PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, saya kembali merasakan dunia kantor yang penuh dengan orang-orang sibuk dan konsern dengan pekerjaan mereka, bergabung dengan CV. Outsorce Indonesia, saya di tugaskan untuk menangani projek Knowledge Management dan Document Management System di PT. Perusahaan Gas Negara (PGN). Apa yang selalu saya tekankan, bahwa senantiasa setiap harinya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, saya kembali merasakan dunia kantor yang penuh dengan orang-orang sibuk dan konsern dengan pekerjaan mereka, bergabung dengan CV. Outsorce Indonesia, saya di tugaskan untuk menangani projek Knowledge Management dan Document Management System di PT. Perusahaan Gas Negara (PGN).</p>
<p>Apa yang selalu saya tekankan, bahwa senantiasa setiap harinya kita belajar hal-hal baru, dan di PGN saya dapat informasi dan ilmu baru tentang aplikasi setiap harinya, dan dipastikan bahwa aplikasi yang digunakan bukan di bangun dari awal, melainkan dengan aplikasi yang sudah ada, kemudian di customize sesuai dengan kebutuhan.<span id="more-199"></span></p>
<p>Nah ini yang biasanya menjadi kendala klasik dalam menangani sebuah aplikasi yang sudah jadi, antara lain:</p>
<ol>
<li>Aplikasi yang digunakan tidak memiliki dokumentasi yang lengkap.</li>
<li>Security script yang menyebabkan kebinggungan dalam penambahan atau perombakan aplikasi.</li>
<li>Aplikasi tidak dilengkapi alur pemprograman.</li>
<li>Aplikasi dibuat serumit mungkin, untuk meminimumkan pembongkaran dan penambahan modul</li>
</ol>
<p>Jadilah kita harus belajar logika programmer sebelumnya, jadi ilmu semakin bertambah walaupun bikin kepala mau pecah, atau sampai-sampai angkat tangan karena harus mengambil sikap untuk tidak melanjutkan modul tertentu karena akan memakan waktu lama. But anyway, pastinya suka banget disini&#8230; suasananya menyenangkan, teamnya yang pasti islami banget. Wish me luck ok???</p>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=199&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/10/12/all-work-all-play/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Juara Tiga Lomba Foto Workshop Olympus</title>
		<link>http://constantio.web.id/2009/07/01/juara-tiga-lomba-foto-workshop-olympus/</link>
		<comments>http://constantio.web.id/2009/07/01/juara-tiga-lomba-foto-workshop-olympus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 12:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Constantio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activity]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Portfolio]]></category>
		<category><![CDATA[Stories]]></category>
		<category><![CDATA["Fashion Photography with mixed Ligthing]]></category>
		<category><![CDATA[Cosmopolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Hary Subastian]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop Olympus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://constantio.web.id/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Bermula pada sebuah kesempatan saya mendapatkan informasi dari teman, bahwa akan diselenggarakan workshop fotografi yang di adakan oleh Olympus, dengan mengetengahkan tema Cosplay, dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 13 &#8211; 14 Juni 2009, dengan dua pembahasan yang berbeda, pada tanggal 13 Juni mengenai &#8221;Fashion Photography with mixed Ligthing &#8220;, oleh Hary Subastian, chief photographer of Cosmopolitan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula pada sebuah kesempatan saya mendapatkan informasi dari teman, bahwa akan diselenggarakan workshop fotografi yang di adakan oleh Olympus, dengan mengetengahkan tema Cosplay, dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 13 &#8211; 14 Juni 2009, dengan dua pembahasan yang berbeda, pada tanggal 13 Juni mengenai &#8221;Fashion Photography with mixed Ligthing &#8220;, oleh Hary Subastian, chief photographer of Cosmopolitan dan tanggal 14 Juni-nya mengenai &#8220;Membuat Foto Juara&#8221;, oleh Markus.</p>
<p>Pada tanggal 13 Juni itupun saya begitu antusias, karena tema Cosplay yang diusung adalah Alichio, salah satu game Jepang yang terkenal, dengan dua model yaitu Orichi dan Pinky, yang sangat professional dan dapat diandalkan, saya pun puas dengan hasil jepretan saya, dan Alhamdulillah foto saya dengan model Orichi, me ndapatkan juara 3, walaupun posisi foto tersebut di balik secara vertikal oleh Pak Harry karena, dengan menurutnya &#8220;Dimensinya tetap terlihat walaupun sudah di balik dari foto asli&#8221;.</p>
<p>Konsep Fashion yang diusungpun cukup terasa dari pakaian yang digunakan oleh para model, fashionable dan unik, dan bagaimana kita tetap harus puas dengan foto asli yang memang sudah bagus, tanpa retouch, dan jauh dari permainan efek Photoshop, itulah yang membuat foto menjadi sangat bernilai.</p>
<p>Berikut foto yang menjadi juara 3:</p>
<div id="attachment_193" class="wp-caption aligncenter" style="width: 294px"><img class="size-full wp-image-193" title="orichi" src="http://constantio.web.id/wp-content/uploads/2009/07/orichi.jpg" alt="Original Foto diserahkan langsung setelah sesi pemotretan&lt;br /&gt;Foto dibalik vertikal oleh Pak Hary" width="284" height="420" /><p class="wp-caption-text">Original Foto diserahkan langsung setelah sesi pemotretan. Foto dibalik vertikal oleh Pak Hary</p></div>
<img src="http://constantio.web.id/?ak_action=api_record_view&id=192&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://constantio.web.id/2009/07/01/juara-tiga-lomba-foto-workshop-olympus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

